Kimia Itu Asik

pembelajaran kimia adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan bahan ajar materi kimia dan dilaksanakan dengan menarik sehingga siswa memperoleh berbagai pengalaman di bidang kimia sesuai dengan standar isi sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan

Sumber Belajar ya Dirumah Belajar

.Berbagai macam Pembelajaran di rumah belajar yang bisa kamu temui.

Ayo Ikut PEMBATK

Sebagai upaya pembelajaran Berbasis TIK guru dituntun untuk mengenalkan dan mempelajari Pyang ada pada portal rumah belajar

Selasa, 14 Desember 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke- 16

Minggu ini adalah minggu terakhir pembelajaran Modul 2.3. Pada minggu ini kegiatan yang saya ikuti adalah dimulai dengan sesi demontrasi konstekstual dan pemahaman elaborasi bersama instruktur ibu Puti hamid pada tanggal 13 Desember 2021 pukul 15.30 di ruang virtual Gmeet. Saat mengikuti sesi Pemahaman Elaborasi dengan materi coahing banyak sekali pemahaman yang saya dapatkan  dan tentunya sangat membantu saya dalam mempraktekkan teknik coaching dengan model TIRTa di sekolah saya.

Pada Kegiatan Demontrasi Konstektual, Disini saya mempraktekkan proses coaching model TIRTa dengan rekan sejawat yang berperan sebagai coachee. 
        Pada saat proses coaching berlangsung tantangan tersendiri bagi saya pribadi dalam mengajukan pertanyaan-pertanyan yang mampu mengindentifikasi permasalahan sehingga coachee mampu menemukan kendala yang di hadapinya. selain itu juga butuh ketrampilan dalam mengarahkan coachee untuk bisa menemukan rencana yang akan dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan yang dimiliki namun demikian Alhamdulillah proses coaching berjalan lancar dan selesai.
        Selama proses belangsung saya merasa tertantang dalam melakukan komunikasi yang asertif saya juga berupaya mengikuti beberapa tips dalam menjalankan proses coahing yaitu menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi dan saya merasa senang telah berhasil menjalankan proses coahing ini.
        Dalam proses Coaching ini banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan terutama tentang makna menuntun yang sebenarnya. jika selama ini saya beranggapan ketika murid atau rekan saya mengalami masalah dan berdiskusi dengan saya untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya biasanya saya akan ikut memikirkan dan memberikan solusinya namun dengan memahami makna coaching saya jadi paham untuk menuntun seseorang atau coachee maka yang saya perlukan adalah mengarahkan coachee tersebut dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat coachee menemukan potensi yang dimilikinya sebagai kekuatannya dalam mengatasi permasalahannya.
        Kedepan saya akan kembali berlatih untuk terus mengembangkan komunikasi yang memberdaya yang nantinya akan membantu saya dalam menerapkan coaching disekolah saya baik itu dengan rekan sejawat ataupun murid saya sehingga proses pendidikan yang berpihak pada murid dapat terwujud.

"Untuk mengukur seberapa kita memahami teori maka praktekkan dalam kehidupan nyata"





2.3.a.9 Koneksi Antar Materi- Coaching

     Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia mengemukakan bahwa pendidikan itu adalah proses menuntun yang dilakukan oleh  guru untuk mengubah perilaku murid, sehingga dapat hidup sesuai kodratnya, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan banyak hal. Salah satu caranya adalah dengan melakukan proses coaching
    Guru sebagai coach merefleksikan kebebasan murid untuk menemukan berbagai kekuataan yang dimiliki mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan. Guru sebagai coach menghindari keinginan untuk memaksakan kehendak dan mengharapkan pamrih. Guru sebagai coach menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya sehingga murid bisa terbuka dalam mengemukakan segala kendala yang dihadapinya selain itu dengan  memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, murid selaku coachee mampu menggali potensi yang dimilikinya sebagai kekuatan mereka dalam mengatasi kendala yang mereka alami.
        Salah satu bentuk untuk melejitkan potensi murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang selalu memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan minat, profil, dan kesiapan belajar. Guru sebagai coach dibutuhkan untuk menggali kebutuhan murid sehingga guru dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid.


        Selain itu, secara sosial-emosional, segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri .Segala potensi akan tergali dengan proses coaching yang dilakukan guru. Murid akan menemukan kedewasaan dalam menghadapi setiap kemelut dalam hidupnya dan mereka akan menemukan jati diri dengan proses coaching yang dilakukan guru. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.sehingga proses menuntun di sini dapat berjalan dengan baik
    Refleksi  saya terhadap proses coaching di sekolah antara lain, pertama, proses coaching sebagai bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi, keunikan dan kekuatan murid untuk hidup sesuai kodratnya dan memperbaiki lakunnya. Kedua, proses coaching menjadikan murid untuk bisa hidup sebagai individu dan bagian msyarakat yang mampu mengenali, menggali, dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Ketiga, proses coaching menuntun murid untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar digali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk memaksimalkan segala potensinya. 
Dalam proses Coaching yang dilakukan coach kepada coachee sedikitnya membutuhkan empat keterampilan: keterampilan membangun dasar proses coaching; keterampilan membangun hubungan baik; keterampilan berkomunikasi; keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 

        Ketika melakukan kegiatan coaching seorang guru selaku coach tentunya mengharapkan ada hasil yang akan dicapai, namun adakalanya murid selaku coachee merasa ragu dan mungkin saja tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. karena itu yang sangat diperlukan adalah pemahaman komunikasi yang asertif agar timbul rasa nyaman, rasa percaya dari coachee sehingga coachee akan lebih terbuka dalam komunikasi dan tujuan yang diharapkan akan tercapai. Dalam usaha untuk membagun keselarasan dalam komunikasi, seorang coach perlu belajar menyamakan posisi dari saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang bisa dilakukan adalah:

1. Menyamakan kata kunci

Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan    coach dan coachee dan ini merupakan langkah awal keberhasilan coaching karena antara     coach dan coachee mampu membangun relasi

2. Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru. Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

3. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika Coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.

Salah satu model Dalam kegiatan Coaching  adalah model TIRTa dengan  menerapkan langkah-langkah sebagai berikut, (T) tujuan,  coach akan menyampaikan  kalimat pembukan dapat menyampaikan tujuan yang hendak dicapai dengan jelas., (I) identifikasi masalah,  coach akan menagajukan Pertanyaan bersifat terbuka dan mampu mengeksplorasi coachee memberikan respon dengan lancar. Potensi dan alternatif solusi tergali. Coach aktif memberikan tanggapan dan umpan balik.  (R) rencana Aksi, Coach memberikan pertanyaan terbuka dan reflektif yang mengarah pada pengambilan keputusan mandiri oleh coachee. Coach membuat coachee mengeksplorasi jawaban sehingga menjadi jawaban yang lebih spesifik.dan (Ta) Coach bertanya untuk mengarahkan coachee mengambil komitmen. Coachee secara mandiri mampu membuat komitmen Tanggung jawab.”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya. 

Dengan memahami teknik komunikasi yang asertif  memahami langkah-langkah dalam proses coaching dengan model TIRTa dan melaksanakan pendampingan dengan prinsip ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid.akan mampu dan sangat membantu saya dalam menjalankan pendidikan yang berpihak kepada murid. karena apa yang saya lakukan bukan karena paksaan tapi memberikan kebebasan dan kemerdekaan bagi si murid untuk menemukan kekuatannya dan tugas saya adalah menuntun mereka untuk bisa menggali setiap potensi yang dimilikinya sesuai dengan kekuatan kodratnya.


Jumat, 10 Desember 2021

Jurnal Refleksi Minggu ke 15

Pada minggu ini tepatnya tanggal  07 desember 2021 melalui ruang virtual kami dibimbing oleh fasilitator melakukan sesi latihan praktek coaching yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Sebelum sesi latihan proses coaching di mulai pak Mukhlis selaku fasilitator  memberikan pemaparan tentang proses coaching dengan model TIRTA  setelah itu kami diberikan kesempatan untuk melakukan sesi latihan  coaching dari kasus yang ada di LMS.  setelah sesi latihan kami diarahkan untuk terus berlatih secara mandiri dengan kelompok yang sudah di bagi karena setelah sesi latihan kami akan melakukan sesi praktik coaching yang nantinya akan kami unggah ke LMS



Selama kegiatan sesi latihan ini berlangsung saya sangat tertantang dalam penerapan model TIRTA karena sebagai coach saya harus mampu menggali pertanyaan untuk dapat mengindetifikasi masalah dan mengarahkan potensi yang dimiliki oleh coachee untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya. Kerja sama yang baik dengan anggota kelompok saya yaitu ibu Ainal Mardhiah dan Pak Ihsan Armia sangat membantu saya dalam melakukan praktek coaching.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dalam praktek coaching ini terutama dalam berkomunikasi. untuk melakukan proses coaching perlu membangun keselarasan berkomunikasi coach perlu belajar menyamakan posisi saat proses coaching berlangsung diantaranya adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi hal ini dilakukan agar coachee merasa nyaman dan bisa terbuka kepada coach terhadap permasalahan yang di alaminya.

Setelah melakukan beberapa kali sesi latihan akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan praktek coaching. Dari praktek coaching ini  banyak hal yang saya dapatkan dan bisa saya terapkan ke depan pada saat saya akan melakukan praktek coahing baik itu dengan peserta didik maupun dengan rekan sejawat.

Selasa, 07 Desember 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke 14

Kegiatan LMS Pendidikan Guru Penggerak Minggu ini memasuki modul  2.3 dengan materi Coaching. Selain itu minggu ini tepatnya tanggal 4 desember 2021 juga diadakan Lokakarya ke 4 pendidikan guru penggerak  yang dilaksanakan di Meuligo Hotel dengan tema "Guru yang Berpihak Pada Murid"


Perasaan saya sangat senang karena saya merasa lebih memahami mengenai teknik dalam melaksanakan coaching . Materi ini sangat penting karena dengan memahami lebih mendalam tentang coaching ini akan membantu saya nantinya ketika saya menerapkan di lingkungan sekolah saya.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan pada saat kegiatan ini  para pengajar praktik memberikan materi tentang praktek coaching yang benar. Kami juga di arahkan bagaimana cara berkomunikasi yang asertif juga menerapkan model TIRTA dalam proses coaching. Kami di bagi dalam beberapa kelompok dimana 1 kelompok terdiri dari 3 orang yang masing-masing dengan perannya tersendiri ada yang berperan sebagai coach, ada yang berperan sebagai coachee dan juga pengamat. kegiatan berlangsung sangat menarik dan tentunya menantang. apalagi saat saya bertindak sebagai coachee saya harus lebih jeli menggali pertanyaa-pertanyaan kepada coachee agar semua proses coahing dengan model Tirta dapat terlaksana.


Setelah mengikuti praktek coaching pada saat loka karya dan juga dengan menggali materi tentang coaching di LMS  saya jadi lebih memahami tentang proses coahing yang benar. dan harapan saya apa yang telah saya pahami ini bisa saya laksanakan pada saat proses coaching di sekolah saya, baik dengan rekan sejawat maupun dengan peserta didik saya.


" Memahami saja tidak cukup untuk mengukur seberapa paham kamu akan sesuatu, maka praktekkan apa yang kamu pahami sehingga kamu akan merasa yakin kamu telah benar-benar memahami sesuatu" "Irawati, S.Pd  - CGP Angkatan 3 Kabupaten Bireuen"




Jumat, 26 November 2021

Jurnal Refleksi Minggu ke 13


Facts (Peristiwa)
Dalam Minggu ini saya mencoba menerapkan Pembelajaran Diferensiasi dengan mengintegrasikan KSE dalam pembelajaran dengan materi Alkohol di kelas XII IPA B yang berjumlah 30 orang Peserta didik. Diferensisasi konten saya hadirkan dengan membuat materi ajar melalui poster dan juga video pembelajaran, Diferensiasi proses saya lakukan dengan memvariasikan kegiatan PBM  selain itu kelompok yang mengalami kendala dalam penyelesaian LKPD akan diberikan bantuan dalam bentuk bimbingan dalam kelompok. Untuk penerapan KSE  :
  •  Pembelajaran dimulai dengan berdoa(penerapan KSE kesadaran diri)
  •   Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran dengan melakukan teknik STOP (Stop, Take a Breath, Observe,Proceed) (penerapan KSE Pengelolaan diri)  
  • Membimbing peserta didik mengumpulkan data dari gambar dan tabel serta bahan ajar (literasi) dan sumber lainnya untuk menjawab LKPD dengan cara berdiskusi dalam kelompoknya melalui tahapan di LKPD (kerjasama dan kolaborasi) (Penerapam KSE keterampilan Berelasi )
  • Meminta peserta didik untuk memilih salah satu kawan dari kelompok nya untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok (Penerapan KSE pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
  • Meminta peserta didik untuk mengevaluasi atau memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok yang dibuat teman-temannya. Bimbing peserta didik untuk dapat memberikan komentar atau saran yang bersifat positif dan membangun (penerapan KSE kesadaransosial).
Hal baik yang saya dapatkan dalam proses PBM adalah antusias peserta didik dalam mengikuti pelajaran yang berdampak pada hasil akhir pembelajaran yang meningkat. Namun demikian ada juga Hambatan dan tantangan yang saya dapatkan pada saat  dapatkan adalah alokasi waktu yang saya rencanakan tidak sesuai dengan penerapan dilapangan sehingga tidak semua kelompok bisa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Untuk mengatasi ini saya akan lebih teliti dan perencanaan  ke depan dalam menyusun materi yang ingin disampaikan dengan alokasi waktu sehingga pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan perencanaan.


Feelings (Perasaan)
Perasaan saya saat melaksanakan Pembelajaran Diferensiasi dengan penerapan KSE adalah bahagia apalagi melihat antusias peserta didik dalam PBM selain itu ada kedekatan emosional dengan peserta didik  dengan saya juga kedekatan emosional antara sesama peserta didik.


Findings (Pembelajaran)
Pelajaran  yang saya dapatkan dari proses ini Penerapan diferensiasi dan KSE dalam pembelajaran  dapat meningkatkan minat belajar  peserta didik.  Mungkin di awal saya akan mengalami kendala dalam penyusunan alokasi waktu yang tepat sehingga semua kegiatan dalam perencanaan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik namun seiring berjalan waktu dengan membiasakan diri merancang dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan mengintegrasikan penerapan KSE akan membuat  saya bisa melaksanakannya dengan baik. Selain itu pembelajaran yang saya dapatkan untuk melahirkan generasi yang cerdas tentunya diperlukan usaha dari guru untuk menghadirkan pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik.


Future (Penerapan)
Dari hasil PBM yang saya laksanakan dengan menerapkan pembelajaran Berdiferensiasi dengan mengintegrasikan KSE dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar peserta didik. ke depan saya akan mengajak komunitas praktisi di sekolah saya untuk ikut menerapkan pembelajaran Berdiferensiasi dengan mengintegrasikan KSE sehingga visi sekolah akan dapat tercapai sehingga mampu mewujudkan merdeka belajar di sekolah saya. 

Senin, 08 November 2021

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi)



Pembelajaran Berdeferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan di kelas. dengan menerapkan strategi diferensiasi yaitu:
  1. Diferensiasi konten. Dalam satu tujuan belajar, guru dapat menyiapkan konten belajar yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik yang berbeda-beda. Konten pembelajaran bervariasi sesuai kebutuhan peserta didik bisa melalui poster, media PPT maupun video dan lainnya.
  2. Diferensiasi proses. pada saat proses pembelajaran, guru dapat memvariasikan strategi kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kesiapan dan profil belajar tiap peserta didik. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan membedakan bentuk-bentuk bantuan belajar yang dapat mendukung murid untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya dengan menerapkan strategi instruksional perancah atau Scaffolding. Dengan bentuk dukungan yang sesuai, cukup, dan tepat sasaran, dengan demikian  maka tujuan pembelajaran yang diharapkan  akan dapat tercapai dengan maksimal.
  3. Diferensiasi produk. Diferensiasi produk belajar dalam satu tujuan belajar juga dapat dilakukan dengan memberikan keleluasaan siswa untuk memilih jenis produk dan cara mengomunikasikan hasil kerjanya
Proses pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal dapat dilakukan dengan mengindentifikasi  kebutuhan peserta didik melalui 
  1. Kesiapan belajar (cepat-lambat, kongkret-abstrak, mandiri-bantuan) 
  2. Minat peserta didik dapat dilakukan mencari kecocokan antara minat dengan tujuan pembelajar, menunjunkkan koneksi antar materi pembelajaran,menjembatani pengetahuan awal peserta didik dengan yang baru, dan memotivasi peserta didik
  3. Profil belajar murid (gaya, kecerdasan dan latar belakang). 
Menurut Ki Hajar Dewantara guru diibaratkan seorang petani dan murid adalah benihnya yang tumbuh berbeda jenis dan perkembangannya. tentunya setiap anak diperlakukan sesuai kodratnya karena setiap anak merupakan suatu pribadi yang unik, yang mempunyai karakter khas yang membedakannya dengan anak lainnya karena sejak dilahirkan setiap anak mempunyai perilaku, karakter, bakat, minat, dan kecerdasan yang berbeda. Jika dikaitkan dengan modul sebelumnya sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara guru dituntut untuk menuntun peserta didij sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.Guru penggerak yang memiliki nilai mandiri,reflektif, kolaboratif dan inovatif tentunya akan berusaha menjalankan perannya secara optimal dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk dapat mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang optimal disinilah peran guru dalam memodifikasi pembelajaran dengan sedemikian rupa untuk dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda beda tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Hal utama yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan memetakan kebutuhan belajar siswanya. Guru dapat merancang, menerapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan belajar siswa yang berbeda- beda tersebut, maka prestasi belajar optimal dapat  sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.



Senin, 01 November 2021

2.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 10


Minggu ini adalah minggu ke 10 yang saya lalui di Pendidikan Guru Penggerak. Minggu ini kegiatan di isi dengan materi dari LMS modul 2 tentang Pembelajaran berdiferensiasi di awal pembelajaran mengenai ekplorasi konsep dan diskusi yang kemudian pemahaman saya tentang pembelajaran berdiferensiasi saya simpulkan dengan menggunakan Diagram Frayer  di bawah ini :

Selanjutnya kegiatan dalam minggu ini adalah kegiatan bersama kelompok yang sudah ditentukan ole Fasilitator kami. Tugas kelompok kami yang terdiri dari Pak Ikhsan Armia, S.Pd,I. Gr dan Ibu Lindawati, S.Pd,I adalah  merancang Rencana Pelaksanaan Pembelaran Berdiferensiasi untuk jenjang SMA. Merancang RPP Berdiferensiasi merupakan hal baru bagi saya pribadi karena di RPP ini memuat kebutuhan belajar peserta didik. Kasus yang kelompok kami ambil adalah kasus saya sendiri yaitu mengambil materi ikatan kimia pada kelas X IPS A  dengan jumlah siswa 35 orang dengan kemampuan ,minat dan tentunya gaya belajar masing-masing siswa. Dalam Merancang RPP ini kami saling berdiskusi lewat ruang virtual yang dipandu oleh fasilitator
Kegiatan selanjutnya kami melakukan pertemuan secara langsung bersama anggota kelompok untuk menuangkan hasil diskusi kami ke dalam bentuk RPP berdiferensiasi yang akan nantinya  akan kami presentasikan dipertemuan selanjutnya 
Di ruang virtual yang di fasilitasi oleh bapak Mukhlis selaku fasilitator kami. Dalam merancang pembelajaran yang berdiferensiasi pada kegiatan inti disini kami merancang pembelajaran yang mengakomodasi kebutuhan, minat dan  gaya belajar siswa dan hal ini juga menjadi sebuah pemahaman baru bagi saya pribadi yang selama ini terkadang masih belum memberikan ruang tersendiri bagi siswa saya dalam mempresentasikan hasil diskusi dengan keinginan mereka sendiri. Saya yakin dengan pembelajaran berdiferensiasi ini akan menghadirkan pembelajaran yang lebih berpihak pada siswa dan tentunya akan meningkatkan minat belajar siswa dan tujuan yang diharapkan juga akan tercapai.

Kegiatan minggu ini ditutup dengan presentasi setiap kelompok tentang RPP Berdiferensiasi yang telah disusun. Sesi ini menjadi sesi sangat menarik dan menyenangkan buat saya karena banyak ilmu dan tentunya pengalaman yang saya ambil. Presentasi rancangan pembelajaran dari setiap kelompok bervariasi ada jenjang SD, SMP dan SMA. Disini kami saling berbagi dan melengkapi masukan dan fasilitator juga sangat bermamfaat untuk penyempurnaan RPP Berdiferensiasi yang kami buat.



(" Tetap semangat untuk terus menggali ilmu. Saling berbagi dan berkolaborasi untuk mewujudkan perubahan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Niatkan segala yang dilakukan sebagai pengabdian untuk negeri. Yakinilah segala lelah ini tidak akan sia-sia dan jadikan semua ini ladang ibadah buat kita semua" Irawati, CGP angkatan 3 Kabupaten Bireuen)


Selasa, 26 Oktober 2021

2.1.a.10.1JURNAL REFLEKSI- MINGGU 9


22 Oktober 2021
Minggu ini merupakan minggu pertama pembelajaran paket modul 2 yang saya pelajari di pendidikan guru penggerak. Modul 2 ini berisi materi tentang praktek pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembukaan modul ini diawali dengan tes awal untuk mengukur pemahaman awal tentang pembelajaran berdiferensiasi.  Selanjutnya di pendahuluan ada penjelasan dari instruktur mengenai alur pembelajaran dan tujuan yang diharapkan setelah kami mempelajari modul ini

Saya sangat tertarik dan tertantang dalam menjawab beberapa pertanyan di poin 2.1.a.3 apalagi dengan video yang berjudul Sekolah hewan. banyak pelajaran yang saya dapat ambil dari video tersebut, salah satunya adalah dalam merancang, melaksanakan dam mengevaluasi pembelajaran  saya harus lebih jeli melihat kebutuhan peserta didik saya.

Harapan saya dengan mempelajari modul ini akan membantu saya dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. 


Rabu, 20 Oktober 2021

1.4.a.9 Koneksi Antar Materi

  1. Koneksi Antar Materi. Filosofi Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, Visi Guru    Penggerak dan Budaya Positif


Refleksi filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal dalam memahami arti pendidikan sesungguhnya. Pendidikan anak sejatinya adalah melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Mendidik dengan hati nurani menuntun anak dengan gaya belajarnya sendiri berdasarkan kodrat dirinya membawa mereka mampu menguasai ketrampilan abad 21 sesuai tuntutan kodrat zaman untuk bekal masa depan mereka. Menuntun dengan mengedepankan Akhlakul karimah sebagai contoh nyata agar terbentuk perilaku yang baik, mengajar dengan memberikan motivasi agar mereka tertarik dan berpartipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran tercapai tanpa mereka merasa dipaksa.   Agar menjadi sosok guru profesional yang ideal ala Ki Hajar Dewantara, maka guru harus selalu melakukan perubahan diri menuju ke arah lebih baik, guru harus menempatkan diri sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, penasehat, motivator, penuntun, tegas dan terhormat dan tentunya di cintai oleh anak. Anak didik adalah ibarat benih padi dan guru adalah petani sedangkan sekolah adalah ladang tempat benih disemai dan tumbuh. Setiap benih punya keistimewannya masing-masing dan tugas petani untuk memberi perlakuan menurut keistimewaannya. Agar benih itu bisa menghasilkan padi yang berkualitas tinggi tentunya si petani harus memiliki ilmu bercocok tanam yang memadai. Ladang yang subur ikut berperan juga dalam menentukan kualitas padi. Begitu juga dengan anak, setiap mereka memiliki keistimewaan tersendiri dan tugas guru untuk memberi perlakuan menurut keistimewaanya selain itu sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan juga harus mampu memberikan fasilitas terbaiknya untuk dapat melahirkan lulusan yang berkualitas, berbudi pekerti luhur dan mampu bersaing sesuai tuntutan zaman.

Sebagai seorang guru penggerak dituntut untuk memahami nilai dan perannya.  peran guru penggerak adalah mengembangkan diri sendiri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah dan memimpin pengembangan sekolah. Peran yang harus dimiliki adalah menjadi pemimpin pembelajaran,menggerakkan komunitas praktisi, menjadi mentor/coach bagi guru lain, dan mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sedangkan nilai guru penggerak adalah mandiri, reflektif, kolaboratif,inovatif dan berpihak kepada murid.

Langkah selanjutnya adalah merumuskan visi yaitu mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila. Sehingga dengan adanya visi yang telah dibuat, dalam melaksanakannya akan lebih terarah. Dalam mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila  tentunya tidak akan terwujud oleh satu pihak saja  tapi dengan kolaborasi dari setiap pemangku kepentingan dengan pendekatan Inkuiri Apresiasi (IA). Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan yang disusun dalam Peta Kekuatan

 

Untuk  mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar yang Memiliki Karakter Pancasila sangat di perlukan menumbuhkan budaya positif yang nantinya akan menjadi budaya sekolah. Jika dikaitkan dengan budaya positif di sekolah, maka bisa di uraikan sebagai nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid yang dijalankan oleh semua warga sekolah. Untuk dapat  mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan penting, guru perlu mencari strategi, cara yang efektif dan tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah. 

 

 2. Rancangan Aksi Nyata



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                       

Jurnal Minggu ke 8- Budaya Posistif

Pada minggu  ini saya  mengikuti 2 kegiatan yaitu membentuk komunitas praktisi di sekolah dan Kegiatan Sesi Elaborasi Pemahaman tentang Budaya Positif bersama Instruktur.

Dalam Pembentukan Komunitas Praktisi saya mengajak rekan-rekan guru di sekolah untuk membentuk komunitas praktisi yang nantinya menjadi wadah untuk saling  berbagi informasi - informasi terbaru di bidang pendidikan maupun berbagi  praktik positif selain itu juga menjadi tempat bagi anggota komunitas untuk sharing permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran dan mencari solusi terbaik dari permasalahan-permasalahan baik dalam pembelajaran maupun di sekolah. 

Kegiatan yang kedua adalah sesi elaborasi pemahaman dengan instruktur ibu  Ameliasari Tauresia Kesuma.

Berikut ini gambaran dari kegiatan yang saya ikuti yang saya buat  dalam model refleksi 4 F (Facts, Feelings, Findings, Future).

1. Pembentukan Komunitas Praktisi
a.  Facts (Peristiwa)



Pada Tanggal 10 Oktober 2021 bertempat di Ruang Guru SMAS Tauthiah Arongan saya berbagi informasi tentang komunitas praktisi yang saya dapatkan pada lokakarya ke 2  kepada rekan-rekan guru. dan mengajak rekan-rekan guru untuk membentuk komunitas praktisi di sekolah saya


b. Feelings (Perasaan)
Perasaan saya sangat bahagia karena sebanyak 18 orang guru dari 33 orang guru ikut bergabung dalam komunitas praktisi sekolah saya. semoga ini langkah awal menuju perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik di sekolah saya.

c. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya peroleh adalah dari hasil diskusi dengan anggota komunitas praktisi sekolah saya. disini saya menjadi lebih memahami permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran di sekolah saya.

d. Future (Penerapan) 
Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dari anggota kelompok komunitas kami saling berbagi untuk mencari solusi terbaik dan menyusun agenda komunitas untuk kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan


2.  Kegiatan Elaborasi Pemahaman tentang budaya positif   
     dengan Instruktur
        a.  Facts (Peristiwa)




Kegiatan dilaksanakan melalui ruang virtual pada tanggal 15 Oktober 2021 pukul 13.00 wib s/d 14.30 wib yang dipandu oleh instruktur ibu Amelia.  Kegiatan kali ini sangat menarik karena materi budaya positif yang dipaparkan adalah keseharian yang dialami oleh guru. Pemaparan dari pemateri sangat lugas dan mampu membuat saya khususnya lebih memahami tentang budaya positif yang seharusnya berkembang di lingkungan sekolah.

b. Feelings (Perasaan)
Perasaan saya sangat senang karena banyak pemahaman dan ilmu baru yang saya dapatkan  di modul 1.4 tentang budaya positif.  


c. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan ini adalah pemahaman saya tentang disiplin positif  seperti apa yang diharapkan tumbuh pada diri siswa. selain itu saya juga lebih memahami karakter siswa  karena setiap perilaku siswa adalah upaya pemenuhan atas kebutuhan dasar mereka sehingga sebagai guru saya tidak langsung mengambil kesimpulan tersendiri atas perilaku mereka, dalam hal ini saya bisa menerapkan posisi kontrol yang mana yang sesuai untuk setiap perilaku siswa yang nantinya akan menjadi pertimbangan saya dalam menerapkan restitusi yang sesuia bagi siswa  yang melanggar keyakinan kelas dan menggarahkan mereka untuk bisa kembali ke kelompok mereka.

d. Future (Penerapan) 
Setelah mendapatkan pengetahuan dan juga pengalaman-pengalaman dari Instruktur dan  dan rekan CGP saya mencoba merancang rencana aksi nyata tentang budaya positif yang nantinya bisa saya terapkan di lingkungan sekolah saya.




Rabu, 13 Oktober 2021

1.4.a.6.1 Refleksi Terbimbing- Budaya Positif


1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu:     disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga Restitusi.       Adakah  hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

     Setelah mempelajari modul tentang budaya positif banyak pemahaman baru yang saya  dapatkan yaitu:

  • Disiplin Positif. Disiplin positif mendorong sisiwa untuk memiliki disiplin dari dalam diri bukan disiplin karena orang lain  atau untuk mendapatkan sesuatu. karena disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna dan hal ini karena didorong oleh motivasi mereka untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
  • Ada lima posisi kontrol yaitu penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah posisi manajer hal ini dikarenakan di posisi kontrol manajer seorang guru dapat mengarahkan siswanya untuk menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya yang pada akhirnya siswa ini akan memiliki disiplin diri
  •  Ada 5 kebutuhan Dasar Manusia yaitu Kebutuhan bertahan hidup,kebutuhan untuk diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan, kebutuhan akan pilihan, dan kebutuhan akan merasa senang. Konsep inti yang saya pahami dari dari 5 kebutuhan dasar manusia adalah semua tingkah laku, sikap atas sesuatu yang dilakukan oleh seseorang merupakan pemenuhan dari kebutuhan dasar. Dalam konteks siswa, setiap perilaku siswa tentunya ada alasan dibaliknya dan ini berhubungan erat dengan kebutuhan dasar tadi, sebagai seorang pendidik kita harus bisa memahami kebutuhan dasar apa yang mereka ingin penuhi karena ini akan berdampak terhadap proses dan tujuan pembelajaran di kelas.
  • Keyakinan kelas dibuat dan disepakati bersama oleh guru dan semua siswa yang nantinya akan menjadi kebiasaan yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif.
  • Segitiga Restitusi adalah tahapan dalam penerapan restitusi yaitu menstabilkan Indentitas, validasi tindakan yang salah (semua perilaku memiliki alasan, menayakan keyakinan ( Motivasi internal ).
  • Semua materi yang di papar dalam modul sangat menarik bagi saya, dan bisa menjadi pantron  saya dalam merefleksi proses pembelajaran saya selama ini. Point penting dalam refleksi saya adalah apakah siswa saya disiplin karena motivasi internal atau eksternal.  Posisi kontrol apa yang sudah saya terapkan ke siswa saya.Kebutuhan dasar apa yang mendasari perilaku siswa saya. 

2. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan konsep-konsep inti  tersebut dalam Menciptakan budaya         positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda.
  • Pengalaman saya adalah dalam menghadapi perilaku siswa saya di kelas terhadap motivasi belajar yang rendah. langkah yang saya lakukan adalah memanggil siswa tersebut secara pribadi dan menanyakan alasannya kenapa kurang berminat dalam belajar dalam hal ini saya mengambil peran posisi kontrol teman. Dari jawaban siswa saya bisa menemukan kebutuhan dasar apa yang siswa butuhkan dan mengambil posisi kontrol manajer untuk mendorong siswa tersebut untuk semangat dalam proses pembelajaran.  
3. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika Menghadapi                 permasalahan murid Anda? Jika iya, ada di posisi manakah Anda? Anda boleh menceritakan situasinya dan        posisi Anda saat itu
  • Pernah. Pada saat saya menghadapi permasalahan siswa yang sering tidak mengerjakan tugas dan kurang berminat dalam belajar. Saya memanggil siswa tersebut dan menanyakan alasannya dan juga kendalanya dalam menyelesaikan tugas dan mengikuti pelajaran dan menanyakan juga kesepakatan kelas apa yang sudah siswa tersebut langgar.  selanjutkan saya memberikan motivasi ke siswa tersebut untuk menyadari kesalahannya dan menyemangatinya untuk terus belajar. 
4. Perubahan  apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun           sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
  • memahami kebutuhan dasar dari siswa saya dan menentukan posisi kontrol yang tepat  pada saat saya menghadapi siswa.
5. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai                 seorang pemimpin pembelajaran?
  • sangat penting, sebagai individu saya lebih memahami kebutuhan dasar manusia, sebagai pemimpin pembelajaran saya lebih memahami posisi kontrol apa yang saya ambil terhadap murid saya. dan bagaimana menumbuhkan motivasi internal bagi siswa sehingga mereka memiliki disiplin yang kuat yang berasal dari diri
6. Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah  Anda        mempelajari modul ini?
  • yang bisa saya lakukan adalah berdiskusi,  berbagi ilmu dan berkolaborasi dengan rekan guru mengenai  budaya positif yang sudah berjalan disekolah saya dan menentukan budaya positif lainnya yang bisa kami terapkan disekolah.
7. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam              proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
  • Menurut saya konsep penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah karakter siswa, gaya belajar siswa dan lingkungan sosialnya
8. Langkah-langkah awal apa yang akan Anda lakukan jika kembali ke sekolah/kelas Anda setelah             mengikuti sesi ini?
  •  Langkah awal yang saya l akukan adalah memahami materi. merefleksi pembelajaran saya sebelumnya baik dalam proses pembelajaran maupun sikap saya dalam menangani siswa bermasalah. Setelah itu bersama komunitas  berdiskusi,  berbagi ilmu dan berkolaborasi dengan rekan guru mengenai  budaya positif yang sudah berjalan disekolah saya dan menentukan budaya positif lainnya yang bisa kami terapkan disekolah.

Senin, 04 Oktober 2021

Jurnal Refleksi - Minggu ke 7

Pada minggu  ini ada 2 kegiatan yang saya ikuti selain mempelajari modul dan mengerjakan tugas-tugas di modul. Kegiatan pertama  yaitu  Elaborasi pemahaman- Kebutuhan Perubahan di sekolah  dan yang kegiatan yang ke dua adalah Lokakarya ke -2.
Berikut ini gambaran dari kegiatan yang saya ikuti yang saya buat  dalam model refleksi 4 F (Facts, Feelings, Findings, Future).

1. Elaborasi pemahaman- Kebutuhan Perubahan di sekolah
a.  Facts (Peristiwa)


Kegiatan ini  di pandu oleh ibu Nur Amalina selaku instruktur dalam ruang virtual yang diikuti oleh CGP angkatan 3 Kabupaten Bireuen dan Aceh Timur.  Kegiatan ini membahas tentang pemahaman yang dimiliki masing-masing terkait materi yang telah dipelajari dan saling memberikan umpan balik, mulai dari profil pelajar Pancasila serta kaitannya dengan paradigma IA. 

b. Feelings (Perasaan)
Dengan mengikuti kegiatan ini saya lebih termotivasi untuk mewujudkan strategi pencapaian visi.

c. Findings (Pembelajaran)
Salah satu pembelajaran yang saya peroleh dari sesi  diskusi bersama instruktur dan rekan CGP  ini adalah saya mampu mengembangkan visi yang lebih jelas mengenai murid yang memiliki profil pelajar pancasila dan pentingnya memetakan kekuatan yang dimiliki demi mewujudkan visi pendidikan yang berpihak pada murid.

d. Future (Penerapan) 
Yang perlu saya pelajari lebih lanjut adalah mengindentifikasi lebih lanjut hal baik yang telah ada disekolah untuk kemudian menyusun strategi untuk menyelaraskan hal baik atau kekuatan tersebut dalam tahapan Bagja yang nantinya akan di eksekusi dalam aksi nyata untuk mewujudkan visi merdeka belajar di sekolah saya.


2.  Lokakarya ke 2 
a.  Facts (Peristiwa)


Kegiatan lokakarya ke 2 kali ini dilaksanakan secara luring yang berlangsung di Aula Hotel Meuligoe yang dihadiri Oleh Bapak-Bapak Dari  PPPPTK dan PLB , Bapak Kabid GTK Kabupaten Bireuen dan Bapak Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan wilayah Biureuen, Bapak Fasilitator, Pengajar Praktik dan CGP angkatan 3 Kabupaten Bireuen.

b. Feelings (Perasaan)
Perasaan saya mengikuti kegiatan ini adalah sangat senang karena bisa bertatap muka langsung dengan bapak-bapak perwakilan dari P4TK dan PLB serta Bapak Mukhlis sebagai Fasilitator saya. Selain itu Kegiatan pada lokakarya kali ini mengusung Teman Mengembangkan Komunitas Belajar sangat menarik bagi saya karena dalam kegiatan ini kami dari rekan CGP dan pengajar praktik saling berdiskusi dan memberikan pendapat dan hal ini menambah pengetahuan saya dan pemahaman saya mengenai mamfaat yang saya dapatkan apabila komunitas praktisi bisa terwujud di sekolah saya.

c. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan ini adalah pemahaman saya tentang pentingnya komunitas praktisi di sekolah. Dalam Kegiatan pengajar praktik juga memberikan strategi atau langkah-langkah dalam pembentukan komunitas praktisi di Sekolah. Banyak pembelajaran yang saya dapat dari kegiatan ini terutama pengalaman-pengalaman dari rekan CGP lainnya tentang Kominutas praktisi yang nantinya menjadi bahan masukan bagi saya dalam upaya pembentukan komunitas praktisi di Sekolah saya

d. Future (Penerapan) 
Setelah mendapatkan pengetahuan dan juga pengalaman-pengalaman dari pengajar praktik dan rekan CGP harapan saya adalah mampu mewujudkan komunitas praktisi di sekolah saya dan hal ini sudah saya diskusikan dengan kepala sekolah tempat saya bertugas dan kepala sekolah saya sangat mendukung terwujudnya komunitas praktisi di sekolah. 



(Refleksi kali ini saya tutup dengan kalimat penyemangat  khususnya untuk saya sendiri  "Membentuk sebuah komunitas praktisi bukanlah hal mudah namun bukan berarti tidak bisa"  Terus berupaya memberikan terbaik untuk sekolah dan peserta didik dalam mewujudkan merdeka belajar, terus bergerak perlahan namun pasti menyesuaikan dengan lingkungan sekolah agar bisa menggerakkan ekosistem sekolah ke arah lebih baik)

Sabtu, 02 Oktober 2021

1.3.a.9. Koneksi Antar Materi - Visi Guru Penggerak

Mewujudkan Merdeka Belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila

Salah satu peran guru penggerak adalah menjadi pemimpin pembelajaran untuk mewujudkan ekosistem sekolah yang mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik mampu berkembang sesuai bakat dan potensi yang dimilikinya. Dalam menjalankan peran ini yang utama sekali perlu saya lakukan adalah memahami  filosofi pemikiran Ki hajar Dewantara dan mengaitkan dengan kondisi pembelajaran yang selama ini saya lakukan di kelas. Yang saya pahami dari filosofi pemikiran Ki hajar Dewantara adalah semua guru mungkin bisa menjadi pengajar, tapi tidak semua pengajar menjadi pendidik. Mendidik dengan hati nurani menuntun anak dengan gaya belajarnya sendiri berdasarkan kodrat dirinya membawa mereka mampu menguasai ketrampilan abad 21 sesuai tuntutan kodrat zaman untuk bekal masa depan mereka. Menuntun dengan mengedepankan Akhlakul karimah sebagai contoh nyata agar terbentuk perilaku yang baik, mengajar dengan memberikan motivasi agar mereka tertarik dan berpartipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran tercapai tanpa mereka merasa dipaksa. Peserta  didik adalah ibarat benih padi dan guru adalah petani sedangkan sekolah adalah ladang tempat benih disemai dan tumbuh. Setiap benih punya keistimewaannya masing-masing dan tugas petani untuk memberi perlakuan menurut keistimewaannya. Agar benih itu bisa menghasilkan padi yang berkualitas tinggi tentunya si petani harus memiliki ilmu bercocok tanam yang memadai. Ladang yang subur ikut berperan juga dalam menentukan kualitas padi. 

Dalam menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran tentunya di dukung oleh nilai-nilai dari guru penggerak yang sudah miliki dan juga nilai yang perlu terus saya asah karena nantinya nilai tersebut adalah kekuatan bagi saya untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang ingin mewujudkan merdeka belajar bagi siswa saya. Nilai-Nilai yang saya miliki tertera pada gambar dibawah ini


Dalam mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila  tentunya tidak akan terwujud oleh saya sendiri tapi dengan kolaborasi dari setiap pemangku kepentingan dengan pendekatan Inkuiri Apresiasi (IA). Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Kekuatan ini saya susun dalam peta kekuatan


Dari Peta kekuatan di atas saya menyusun penerapan Inkuiri Apresiatif melalui 5 tahapan yaitu BAGJA. Fokus saya adalah pada minat peserta didik dalam belajar karena selama ini permasalahan utama yang saya dan juga guru yang lain hadapi di sekolah adalah minat belajar siswa yang kurang. Untuk mewujudkan merdeka Belajar dan untuk menumbuhkan karakter pancasila pada peserta didik yang pertama sekali harus saya dan rekan guru lainnya lakukan adalah meningkatkan minat belajar peserta . Berikut ini tahapan BAGJA sebagai upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa di sekolah

PRAKARSA

PERUBAHAN

Strategi Pengenalan Kekuatan dan Potensi Peserta didik

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

Bagaimana meningkatkan minat peserta didik dalam belajar?

       Berdiskusi dengan peserta didik tentang  model pembelajaran yang mereka impikan.

          Merefleksi kembali pembelajaran yang dilakukan sebelumnya dan memperbaiki rencana pembelajaran ke depan yang lebih melibatkan peserta didik dalam pembelajaran

          Berdiskusi dengan rekan sejawat mengenai model pembelajaran yang tepat dan bervariasi untuk meningkatkan minat belajar peserta didik

A-mbil pelajaran (Discover) 

Hal positif apa yang dimiliki oleh peserta didik untuk meningkatkan minat belajar Peserta didik?

         Semangat peserta didik dalam belajar

         Potensi yang dimiliki peserta didik

G-ali mimpi (Dream)

Hal positif apa yang akan   terjadi ke depan dengan meningkatnya minat belajar Peserta didik?

         Mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik

         Tujuan Pembelajaran tercapai

         Meningkatkan mutu lulusan    

     

J-abarkan  rencana (Design)

Langkah-langkah apa yang  dilakukan untuk meningkatkan minat belajar peserta didik? 

          Membuat model pembelajaran yang berpusat pada murid dan menyenangkan

           Mengembangkan pembelajaran yang bervariasi sesuai potensi yang dimiliki peserta didik

A-tur eksekusi (Deliver)

Siapa saja yang terlibat dalam upaya meningkatkan minat belajar peserta didik?

           Kebijakan kepala sekolah tentang pengembangan pembelajaran yang bisa meningkatkan minat peserta didik

         Semua guru berkolaborasi dalam upaya mengembangkan model pembelajaran yang bisa meningkatkan minat belajar peserta didik.      kondisi sekolah yang nyaman dapat menjadi pendukung dalam meningkatkan minat belajar siswa.                                                              

 

Kegiatan  Lokakarya Orientasi  Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 8 Kabupaten   dilaksanakan pada hari   Sabtu, tanggal 13 Mei 2023   di   ...