Minggu ini adalah minggu terakhir pembelajaran Modul 2.3. Pada minggu ini kegiatan yang saya ikuti adalah dimulai dengan sesi demontrasi konstekstual dan pemahaman elaborasi bersama instruktur ibu Puti hamid pada tanggal 13 Desember 2021 pukul 15.30 di ruang virtual Gmeet. Saat mengikuti sesi Pemahaman Elaborasi dengan materi coahing banyak sekali pemahaman yang saya dapatkan dan tentunya sangat membantu saya dalam mempraktekkan teknik coaching dengan model TIRTa di sekolah saya.
Kimia Itu Asik
pembelajaran kimia adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan bahan ajar materi kimia dan dilaksanakan dengan menarik sehingga siswa memperoleh berbagai pengalaman di bidang kimia sesuai dengan standar isi sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan
Sumber Belajar ya Dirumah Belajar
.Berbagai macam Pembelajaran di rumah belajar yang bisa kamu temui.
Ayo Ikut PEMBATK
Sebagai upaya pembelajaran Berbasis TIK guru dituntun untuk mengenalkan dan mempelajari Pyang ada pada portal rumah belajar
Selasa, 14 Desember 2021
Jurnal Refleksi Minggu Ke- 16
2.3.a.9 Koneksi Antar Materi- Coaching
Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia mengemukakan bahwa pendidikan itu adalah proses menuntun yang dilakukan oleh guru untuk mengubah perilaku murid, sehingga dapat hidup sesuai kodratnya, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan banyak hal. Salah satu caranya adalah dengan melakukan proses coaching. 
Guru sebagai coach merefleksikan kebebasan murid untuk menemukan berbagai kekuataan yang dimiliki mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan. Guru sebagai coach menghindari keinginan untuk memaksakan kehendak dan mengharapkan pamrih. Guru sebagai coach menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya sehingga murid bisa terbuka dalam mengemukakan segala kendala yang dihadapinya selain itu dengan memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, murid selaku coachee mampu menggali potensi yang dimilikinya sebagai kekuatan mereka dalam mengatasi kendala yang mereka alami.
Salah satu bentuk untuk melejitkan potensi murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang selalu memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan minat, profil, dan kesiapan belajar. Guru sebagai coach dibutuhkan untuk menggali kebutuhan murid sehingga guru dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid.

Selain itu, secara sosial-emosional, segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri .Segala potensi akan tergali dengan proses coaching yang dilakukan guru. Murid akan menemukan kedewasaan dalam menghadapi setiap kemelut dalam hidupnya dan mereka akan menemukan jati diri dengan proses coaching yang dilakukan guru. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.sehingga proses menuntun di sini dapat berjalan dengan baik
Refleksi saya terhadap proses coaching di sekolah antara lain, pertama, proses coaching sebagai bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi, keunikan dan kekuatan murid untuk hidup sesuai kodratnya dan memperbaiki lakunnya. Kedua, proses coaching menjadikan murid untuk bisa hidup sebagai individu dan bagian msyarakat yang mampu mengenali, menggali, dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Ketiga, proses coaching menuntun murid untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar digali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk memaksimalkan segala potensinya. Dalam proses Coaching yang dilakukan coach kepada coachee sedikitnya membutuhkan empat keterampilan: keterampilan membangun dasar proses coaching; keterampilan membangun hubungan baik; keterampilan berkomunikasi; keterampilan memfasilitasi pembelajaran.
Ketika melakukan kegiatan coaching seorang guru selaku coach tentunya mengharapkan ada hasil yang akan dicapai, namun adakalanya murid selaku coachee merasa ragu dan mungkin saja tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. karena itu yang sangat diperlukan adalah pemahaman komunikasi yang asertif agar timbul rasa nyaman, rasa percaya dari coachee sehingga coachee akan lebih terbuka dalam komunikasi dan tujuan yang diharapkan akan tercapai. Dalam usaha untuk membagun keselarasan dalam komunikasi, seorang coach perlu belajar menyamakan posisi dari saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang bisa dilakukan adalah:
1. Menyamakan kata kunci
Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee dan ini merupakan langkah awal keberhasilan coaching karena antara coach dan coachee mampu membangun relasi
2. Menyamakan bahasa tubuh
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru. Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.
3. Menyelaraskan emosi
Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika Coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.
Salah satu model Dalam kegiatan Coaching adalah model TIRTa dengan menerapkan langkah-langkah sebagai berikut, (T) tujuan, coach akan menyampaikan kalimat pembukan dapat menyampaikan tujuan yang hendak dicapai dengan jelas., (I) identifikasi masalah, coach akan menagajukan Pertanyaan bersifat terbuka dan mampu mengeksplorasi coachee memberikan respon dengan lancar. Potensi dan alternatif solusi tergali. Coach aktif memberikan tanggapan dan umpan balik. (R) rencana Aksi, Coach memberikan pertanyaan terbuka dan reflektif yang mengarah pada pengambilan keputusan mandiri oleh coachee. Coach membuat coachee mengeksplorasi jawaban sehingga menjadi jawaban yang lebih spesifik.dan (Ta) Coach bertanya untuk mengarahkan coachee mengambil komitmen. Coachee secara mandiri mampu membuat komitmen Tanggung jawab.”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya.
Dengan memahami teknik komunikasi yang asertif memahami langkah-langkah dalam proses coaching dengan model TIRTa dan melaksanakan pendampingan dengan prinsip ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid.akan mampu dan sangat membantu saya dalam menjalankan pendidikan yang berpihak kepada murid. karena apa yang saya lakukan bukan karena paksaan tapi memberikan kebebasan dan kemerdekaan bagi si murid untuk menemukan kekuatannya dan tugas saya adalah menuntun mereka untuk bisa menggali setiap potensi yang dimilikinya sesuai dengan kekuatan kodratnya.
Jumat, 10 Desember 2021
Jurnal Refleksi Minggu ke 15
Pada minggu ini tepatnya tanggal 07 desember 2021 melalui ruang virtual kami dibimbing oleh fasilitator melakukan sesi latihan praktek coaching yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Sebelum sesi latihan proses coaching di mulai pak Mukhlis selaku fasilitator memberikan pemaparan tentang proses coaching dengan model TIRTA setelah itu kami diberikan kesempatan untuk melakukan sesi latihan coaching dari kasus yang ada di LMS. setelah sesi latihan kami diarahkan untuk terus berlatih secara mandiri dengan kelompok yang sudah di bagi karena setelah sesi latihan kami akan melakukan sesi praktik coaching yang nantinya akan kami unggah ke LMS
Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dalam praktek coaching ini terutama dalam berkomunikasi. untuk melakukan proses coaching perlu membangun keselarasan berkomunikasi coach perlu belajar menyamakan posisi saat proses coaching berlangsung diantaranya adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi hal ini dilakukan agar coachee merasa nyaman dan bisa terbuka kepada coach terhadap permasalahan yang di alaminya.
Setelah melakukan beberapa kali sesi latihan akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan praktek coaching. Dari praktek coaching ini banyak hal yang saya dapatkan dan bisa saya terapkan ke depan pada saat saya akan melakukan praktek coahing baik itu dengan peserta didik maupun dengan rekan sejawat.
Selasa, 07 Desember 2021
Jurnal Refleksi Minggu Ke 14
Kegiatan LMS Pendidikan Guru Penggerak Minggu ini memasuki modul 2.3 dengan materi Coaching. Selain itu minggu ini tepatnya tanggal 4 desember 2021 juga diadakan Lokakarya ke 4 pendidikan guru penggerak yang dilaksanakan di Meuligo Hotel dengan tema "Guru yang Berpihak Pada Murid"
Perasaan saya sangat senang karena saya merasa lebih memahami mengenai teknik dalam melaksanakan coaching . Materi ini sangat penting karena dengan memahami lebih mendalam tentang coaching ini akan membantu saya nantinya ketika saya menerapkan di lingkungan sekolah saya.
Banyak pembelajaran yang saya dapatkan pada saat kegiatan ini para pengajar praktik memberikan materi tentang praktek coaching yang benar. Kami juga di arahkan bagaimana cara berkomunikasi yang asertif juga menerapkan model TIRTA dalam proses coaching. Kami di bagi dalam beberapa kelompok dimana 1 kelompok terdiri dari 3 orang yang masing-masing dengan perannya tersendiri ada yang berperan sebagai coach, ada yang berperan sebagai coachee dan juga pengamat. kegiatan berlangsung sangat menarik dan tentunya menantang. apalagi saat saya bertindak sebagai coachee saya harus lebih jeli menggali pertanyaa-pertanyaan kepada coachee agar semua proses coahing dengan model Tirta dapat terlaksana.
Setelah mengikuti praktek coaching pada saat loka karya dan juga dengan menggali materi tentang coaching di LMS saya jadi lebih memahami tentang proses coahing yang benar. dan harapan saya apa yang telah saya pahami ini bisa saya laksanakan pada saat proses coaching di sekolah saya, baik dengan rekan sejawat maupun dengan peserta didik saya.
" Memahami saja tidak cukup untuk mengukur seberapa paham kamu akan sesuatu, maka praktekkan apa yang kamu pahami sehingga kamu akan merasa yakin kamu telah benar-benar memahami sesuatu" "Irawati, S.Pd - CGP Angkatan 3 Kabupaten Bireuen"
Jumat, 26 November 2021
Jurnal Refleksi Minggu ke 13
Facts (Peristiwa)
Dalam Minggu ini saya mencoba menerapkan Pembelajaran Diferensiasi dengan mengintegrasikan KSE dalam pembelajaran dengan materi Alkohol di kelas XII IPA B yang berjumlah 30 orang Peserta didik. Diferensisasi konten saya hadirkan dengan membuat materi ajar melalui poster dan juga video pembelajaran, Diferensiasi proses saya lakukan dengan memvariasikan kegiatan PBM selain itu kelompok yang mengalami kendala dalam penyelesaian LKPD akan diberikan bantuan dalam bentuk bimbingan dalam kelompok. Untuk penerapan KSE :- Pembelajaran dimulai dengan berdoa(penerapan KSE
kesadaran diri)
- Menyiapkan
fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran dengan
melakukan teknik STOP (Stop, Take a Breath, Observe,Proceed) (penerapan KSE Pengelolaan diri)
- Membimbing peserta didik mengumpulkan
data dari gambar dan tabel serta bahan ajar (literasi) dan
sumber lainnya untuk menjawab LKPD dengan cara berdiskusi dalam kelompoknya melalui tahapan di LKPD
(kerjasama dan kolaborasi) (Penerapam KSE keterampilan Berelasi )
- Meminta peserta didik untuk memilih salah satu kawan dari kelompok nya untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok (Penerapan KSE pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
- Meminta peserta didik untuk mengevaluasi atau memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok yang dibuat teman-temannya. Bimbing peserta didik untuk dapat memberikan komentar atau saran
yang bersifat positif dan membangun (penerapan
KSE kesadaransosial).
Hal baik yang saya dapatkan dalam proses PBM adalah antusias peserta didik dalam mengikuti pelajaran yang berdampak pada hasil akhir pembelajaran yang meningkat. Namun demikian ada juga Hambatan dan tantangan yang saya dapatkan pada saat dapatkan adalah alokasi waktu yang saya rencanakan tidak sesuai dengan penerapan dilapangan sehingga tidak semua kelompok bisa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Untuk mengatasi ini saya akan lebih teliti dan perencanaan ke depan dalam menyusun materi yang ingin disampaikan dengan alokasi waktu sehingga pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan perencanaan.
Feelings (Perasaan)
Perasaan saya saat melaksanakan Pembelajaran Diferensiasi dengan penerapan KSE adalah bahagia apalagi melihat antusias peserta didik dalam PBM selain itu ada kedekatan emosional dengan peserta didik dengan saya juga kedekatan emosional antara sesama peserta didik.
Findings (Pembelajaran)
Pelajaran yang saya dapatkan dari proses ini Penerapan diferensiasi dan KSE dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar peserta didik. Mungkin di awal saya akan mengalami kendala dalam penyusunan alokasi waktu yang tepat sehingga semua kegiatan dalam perencanaan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik namun seiring berjalan waktu dengan membiasakan diri merancang dan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan mengintegrasikan penerapan KSE akan membuat saya bisa melaksanakannya dengan baik. Selain itu pembelajaran yang saya dapatkan untuk melahirkan generasi yang cerdas tentunya diperlukan usaha dari guru untuk menghadirkan pembelajaran berdasarkan kebutuhan peserta didik.
Future (Penerapan)
Dari hasil PBM yang saya laksanakan dengan menerapkan pembelajaran Berdiferensiasi dengan mengintegrasikan KSE dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar peserta didik. ke depan saya akan mengajak komunitas praktisi di sekolah saya untuk ikut menerapkan pembelajaran Berdiferensiasi dengan mengintegrasikan KSE sehingga visi sekolah akan dapat tercapai sehingga mampu mewujudkan merdeka belajar di sekolah saya.
Senin, 08 November 2021
2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi)

Pembelajaran Berdeferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap peserta didik. pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan di kelas. dengan menerapkan strategi diferensiasi yaitu:
- Diferensiasi konten. Dalam satu tujuan belajar, guru dapat menyiapkan konten belajar yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik yang berbeda-beda. Konten pembelajaran bervariasi sesuai kebutuhan peserta didik bisa melalui poster, media PPT maupun video dan lainnya.
- Diferensiasi proses. pada saat proses pembelajaran, guru dapat memvariasikan strategi kegiatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kesiapan dan profil belajar tiap peserta didik. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan membedakan bentuk-bentuk bantuan belajar yang dapat mendukung murid untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya dengan menerapkan strategi instruksional perancah atau Scaffolding. Dengan bentuk dukungan yang sesuai, cukup, dan tepat sasaran, dengan demikian maka tujuan pembelajaran yang diharapkan akan dapat tercapai dengan maksimal.
- Diferensiasi produk. Diferensiasi produk belajar dalam satu tujuan belajar juga dapat dilakukan dengan memberikan keleluasaan siswa untuk memilih jenis produk dan cara mengomunikasikan hasil kerjanya
Proses pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal dapat dilakukan dengan mengindentifikasi kebutuhan peserta didik melalui
- Kesiapan belajar (cepat-lambat, kongkret-abstrak, mandiri-bantuan)
- Minat peserta didik dapat dilakukan mencari kecocokan antara minat dengan tujuan pembelajar, menunjunkkan koneksi antar materi pembelajaran,menjembatani pengetahuan awal peserta didik dengan yang baru, dan memotivasi peserta didik
- Profil belajar murid (gaya, kecerdasan dan latar belakang).
Menurut Ki Hajar Dewantara guru diibaratkan seorang petani dan murid adalah benihnya yang tumbuh berbeda jenis dan perkembangannya. tentunya setiap anak diperlakukan sesuai kodratnya karena setiap anak merupakan suatu pribadi yang unik, yang mempunyai karakter khas yang membedakannya dengan anak lainnya karena sejak dilahirkan setiap anak mempunyai perilaku, karakter, bakat, minat, dan kecerdasan yang berbeda. Jika dikaitkan dengan modul sebelumnya sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara guru dituntut untuk menuntun peserta didij sesuai kodrat alam dan kodrat zaman.Guru penggerak yang memiliki nilai mandiri,reflektif, kolaboratif dan inovatif tentunya akan berusaha menjalankan perannya secara optimal dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk dapat mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang optimal disinilah peran guru dalam memodifikasi pembelajaran dengan sedemikian rupa untuk dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda beda tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Hal utama yang harus dilakukan oleh guru adalah dengan memetakan kebutuhan belajar siswanya. Guru dapat merancang, menerapkan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan belajar siswa yang berbeda- beda tersebut, maka prestasi belajar optimal dapat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Senin, 01 November 2021
2.1.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 10
Kegiatan minggu ini ditutup dengan presentasi setiap kelompok tentang RPP Berdiferensiasi yang telah disusun. Sesi ini menjadi sesi sangat menarik dan menyenangkan buat saya karena banyak ilmu dan tentunya pengalaman yang saya ambil. Presentasi rancangan pembelajaran dari setiap kelompok bervariasi ada jenjang SD, SMP dan SMA. Disini kami saling berbagi dan melengkapi masukan dan fasilitator juga sangat bermamfaat untuk penyempurnaan RPP Berdiferensiasi yang kami buat.
(" Tetap semangat untuk terus menggali ilmu. Saling berbagi dan berkolaborasi untuk mewujudkan perubahan dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Niatkan segala yang dilakukan sebagai pengabdian untuk negeri. Yakinilah segala lelah ini tidak akan sia-sia dan jadikan semua ini ladang ibadah buat kita semua" Irawati, CGP angkatan 3 Kabupaten Bireuen)
Selasa, 26 Oktober 2021
2.1.a.10.1JURNAL REFLEKSI- MINGGU 9
Rabu, 20 Oktober 2021
1.4.a.9 Koneksi Antar Materi
- Koneksi Antar Materi. Filosofi Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, Visi Guru Penggerak dan Budaya Positif
Refleksi
filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal dalam
memahami arti pendidikan sesungguhnya. Pendidikan anak sejatinya adalah melihat
kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Mendidik
dengan hati nurani menuntun anak dengan gaya belajarnya sendiri berdasarkan
kodrat dirinya membawa mereka mampu menguasai ketrampilan abad 21 sesuai
tuntutan kodrat zaman untuk bekal masa depan mereka. Menuntun dengan
mengedepankan Akhlakul karimah sebagai contoh nyata agar terbentuk perilaku
yang baik, mengajar dengan memberikan motivasi agar mereka tertarik dan
berpartipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran tercapai tanpa mereka
merasa dipaksa. Agar menjadi sosok guru profesional yang ideal
ala Ki Hajar Dewantara, maka guru harus selalu melakukan perubahan diri menuju
ke arah lebih baik, guru harus menempatkan diri sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, penasehat, motivator, penuntun, tegas dan terhormat dan tentunya di
cintai oleh anak. Anak didik adalah ibarat benih padi dan guru adalah
petani sedangkan sekolah adalah ladang tempat benih disemai dan tumbuh.
Setiap benih punya keistimewannya masing-masing dan tugas petani untuk memberi
perlakuan menurut keistimewaannya. Agar benih itu bisa menghasilkan padi
yang berkualitas tinggi tentunya si petani harus memiliki ilmu bercocok tanam
yang memadai. Ladang yang subur ikut berperan juga dalam menentukan
kualitas padi. Begitu juga dengan anak, setiap mereka memiliki keistimewaan
tersendiri dan tugas guru untuk memberi perlakuan menurut keistimewaanya selain
itu sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan juga harus mampu
memberikan fasilitas terbaiknya untuk dapat melahirkan lulusan yang
berkualitas, berbudi pekerti luhur dan mampu bersaing sesuai tuntutan zaman.
Sebagai
seorang guru penggerak dituntut untuk memahami nilai dan perannya. peran
guru penggerak adalah mengembangkan diri sendiri dan orang lain, memimpin
pembelajaran, memimpin manajemen sekolah dan memimpin pengembangan sekolah.
Peran yang harus dimiliki adalah menjadi pemimpin pembelajaran,menggerakkan
komunitas praktisi, menjadi mentor/coach bagi guru lain, dan mendorong kolaborasi
antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sedangkan nilai guru penggerak
adalah mandiri, reflektif, kolaboratif,inovatif dan berpihak kepada murid.
Langkah selanjutnya adalah merumuskan visi yaitu mewujudkan
merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila.
Sehingga dengan adanya visi yang telah dibuat, dalam melaksanakannya akan lebih
terarah. Dalam mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang
Memiliki Karakter Pancasila tentunya tidak akan terwujud oleh
satu pihak saja tapi dengan kolaborasi dari setiap pemangku kepentingan
dengan pendekatan Inkuiri Apresiasi (IA). Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai
pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan yang
disusun dalam Peta Kekuatan
Untuk mewujudkan merdeka belajar Untuk
Mencapai Pelajar yang Memiliki Karakter Pancasila sangat di perlukan
menumbuhkan budaya positif yang nantinya akan menjadi budaya sekolah. Jika
dikaitkan dengan budaya positif di sekolah, maka bisa di uraikan sebagai
nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang
berpihak pada murid yang dijalankan oleh semua warga sekolah. Untuk
dapat mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan penting, guru
perlu mencari strategi, cara yang efektif dan tepat untuk dapat mewujudkan
budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah.
Jurnal Minggu ke 8- Budaya Posistif
Pada minggu ini saya mengikuti 2 kegiatan yaitu membentuk komunitas praktisi di sekolah dan Kegiatan Sesi Elaborasi Pemahaman tentang Budaya Positif bersama Instruktur.
Dalam Pembentukan Komunitas Praktisi saya mengajak rekan-rekan guru di sekolah untuk membentuk komunitas praktisi yang nantinya menjadi wadah untuk saling berbagi informasi - informasi terbaru di bidang pendidikan maupun berbagi praktik positif selain itu juga menjadi tempat bagi anggota komunitas untuk sharing permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran dan mencari solusi terbaik dari permasalahan-permasalahan baik dalam pembelajaran maupun di sekolah.
Kegiatan yang kedua adalah sesi elaborasi pemahaman dengan instruktur ibu Ameliasari Tauresia Kesuma.
Kegiatan dilaksanakan melalui ruang virtual pada tanggal 15 Oktober 2021 pukul 13.00 wib s/d 14.30 wib yang dipandu oleh instruktur ibu Amelia. Kegiatan kali ini sangat menarik karena materi budaya positif yang dipaparkan adalah keseharian yang dialami oleh guru. Pemaparan dari pemateri sangat lugas dan mampu membuat saya khususnya lebih memahami tentang budaya positif yang seharusnya berkembang di lingkungan sekolah.
Rabu, 13 Oktober 2021
1.4.a.6.1 Refleksi Terbimbing- Budaya Positif
1. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga Restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Setelah mempelajari modul tentang budaya positif banyak pemahaman baru yang saya dapatkan yaitu:
- Disiplin Positif. Disiplin positif mendorong sisiwa untuk memiliki disiplin dari dalam diri bukan disiplin karena orang lain atau untuk mendapatkan sesuatu. karena disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna dan hal ini karena didorong oleh motivasi mereka untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
- Ada lima posisi kontrol yaitu penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah posisi manajer hal ini dikarenakan di posisi kontrol manajer seorang guru dapat mengarahkan siswanya untuk menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya yang pada akhirnya siswa ini akan memiliki disiplin diri
- Ada 5 kebutuhan Dasar Manusia yaitu Kebutuhan bertahan hidup,kebutuhan untuk diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan, kebutuhan akan pilihan, dan kebutuhan akan merasa senang. Konsep inti yang saya pahami dari dari 5 kebutuhan dasar manusia adalah semua tingkah laku, sikap atas sesuatu yang dilakukan oleh seseorang merupakan pemenuhan dari kebutuhan dasar. Dalam konteks siswa, setiap perilaku siswa tentunya ada alasan dibaliknya dan ini berhubungan erat dengan kebutuhan dasar tadi, sebagai seorang pendidik kita harus bisa memahami kebutuhan dasar apa yang mereka ingin penuhi karena ini akan berdampak terhadap proses dan tujuan pembelajaran di kelas.
- Keyakinan kelas dibuat dan disepakati bersama oleh guru dan semua siswa yang nantinya akan menjadi kebiasaan yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif.
- Segitiga Restitusi adalah tahapan dalam penerapan restitusi yaitu menstabilkan Indentitas, validasi tindakan yang salah (semua perilaku memiliki alasan, menayakan keyakinan ( Motivasi internal ).
- Semua materi yang di papar dalam modul sangat menarik bagi saya, dan bisa menjadi pantron saya dalam merefleksi proses pembelajaran saya selama ini. Point penting dalam refleksi saya adalah apakah siswa saya disiplin karena motivasi internal atau eksternal. Posisi kontrol apa yang sudah saya terapkan ke siswa saya.Kebutuhan dasar apa yang mendasari perilaku siswa saya.
- Pengalaman saya adalah dalam menghadapi perilaku siswa saya di kelas terhadap motivasi belajar yang rendah. langkah yang saya lakukan adalah memanggil siswa tersebut secara pribadi dan menanyakan alasannya kenapa kurang berminat dalam belajar dalam hal ini saya mengambil peran posisi kontrol teman. Dari jawaban siswa saya bisa menemukan kebutuhan dasar apa yang siswa butuhkan dan mengambil posisi kontrol manajer untuk mendorong siswa tersebut untuk semangat dalam proses pembelajaran.
- Pernah. Pada saat saya menghadapi permasalahan siswa yang sering tidak mengerjakan tugas dan kurang berminat dalam belajar. Saya memanggil siswa tersebut dan menanyakan alasannya dan juga kendalanya dalam menyelesaikan tugas dan mengikuti pelajaran dan menanyakan juga kesepakatan kelas apa yang sudah siswa tersebut langgar. selanjutkan saya memberikan motivasi ke siswa tersebut untuk menyadari kesalahannya dan menyemangatinya untuk terus belajar.
- memahami kebutuhan dasar dari siswa saya dan menentukan posisi kontrol yang tepat pada saat saya menghadapi siswa.
- sangat penting, sebagai individu saya lebih memahami kebutuhan dasar manusia, sebagai pemimpin pembelajaran saya lebih memahami posisi kontrol apa yang saya ambil terhadap murid saya. dan bagaimana menumbuhkan motivasi internal bagi siswa sehingga mereka memiliki disiplin yang kuat yang berasal dari diri
- yang bisa saya lakukan adalah berdiskusi, berbagi ilmu dan berkolaborasi dengan rekan guru mengenai budaya positif yang sudah berjalan disekolah saya dan menentukan budaya positif lainnya yang bisa kami terapkan disekolah.
- Menurut saya konsep penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah adalah karakter siswa, gaya belajar siswa dan lingkungan sosialnya
- Langkah awal yang saya l akukan adalah memahami materi. merefleksi pembelajaran saya sebelumnya baik dalam proses pembelajaran maupun sikap saya dalam menangani siswa bermasalah. Setelah itu bersama komunitas berdiskusi, berbagi ilmu dan berkolaborasi dengan rekan guru mengenai budaya positif yang sudah berjalan disekolah saya dan menentukan budaya positif lainnya yang bisa kami terapkan disekolah.
Senin, 04 Oktober 2021
Jurnal Refleksi - Minggu ke 7
Kegiatan lokakarya ke 2 kali ini dilaksanakan secara luring yang berlangsung di Aula Hotel Meuligoe yang dihadiri Oleh Bapak-Bapak Dari PPPPTK dan PLB , Bapak Kabid GTK Kabupaten Bireuen dan Bapak Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan wilayah Biureuen, Bapak Fasilitator, Pengajar Praktik dan CGP angkatan 3 Kabupaten Bireuen.
Sabtu, 02 Oktober 2021
1.3.a.9. Koneksi Antar Materi - Visi Guru Penggerak
Mewujudkan Merdeka Belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila
Salah satu peran guru penggerak adalah menjadi pemimpin pembelajaran untuk mewujudkan ekosistem sekolah yang mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik mampu berkembang sesuai bakat dan potensi yang dimilikinya. Dalam menjalankan peran ini yang utama sekali perlu saya lakukan adalah memahami filosofi pemikiran Ki hajar Dewantara dan mengaitkan dengan kondisi pembelajaran yang selama ini saya lakukan di kelas. Yang saya pahami dari filosofi pemikiran Ki hajar Dewantara adalah semua guru mungkin bisa menjadi pengajar, tapi tidak semua pengajar menjadi pendidik. Mendidik dengan hati nurani menuntun anak dengan gaya belajarnya sendiri berdasarkan kodrat dirinya membawa mereka mampu menguasai ketrampilan abad 21 sesuai tuntutan kodrat zaman untuk bekal masa depan mereka. Menuntun dengan mengedepankan Akhlakul karimah sebagai contoh nyata agar terbentuk perilaku yang baik, mengajar dengan memberikan motivasi agar mereka tertarik dan berpartipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran tercapai tanpa mereka merasa dipaksa. Peserta didik adalah ibarat benih padi dan guru adalah petani sedangkan sekolah adalah ladang tempat benih disemai dan tumbuh. Setiap benih punya keistimewaannya masing-masing dan tugas petani untuk memberi perlakuan menurut keistimewaannya. Agar benih itu bisa menghasilkan padi yang berkualitas tinggi tentunya si petani harus memiliki ilmu bercocok tanam yang memadai. Ladang yang subur ikut berperan juga dalam menentukan kualitas padi.
Dalam menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran tentunya di dukung oleh nilai-nilai dari guru penggerak yang sudah miliki dan juga nilai yang perlu terus saya asah karena nantinya nilai tersebut adalah kekuatan bagi saya untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang ingin mewujudkan merdeka belajar bagi siswa saya. Nilai-Nilai yang saya miliki tertera pada gambar dibawah ini
Dalam mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila tentunya tidak akan terwujud oleh saya sendiri tapi dengan kolaborasi dari setiap pemangku kepentingan dengan pendekatan Inkuiri Apresiasi (IA). Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Kekuatan ini saya susun dalam peta kekuatan
Dari Peta kekuatan di atas saya menyusun penerapan Inkuiri Apresiatif melalui 5 tahapan yaitu BAGJA. Fokus saya adalah pada minat peserta didik dalam belajar karena selama ini permasalahan utama yang saya dan juga guru yang lain hadapi di sekolah adalah minat belajar siswa yang kurang. Untuk mewujudkan merdeka Belajar dan untuk menumbuhkan karakter pancasila pada peserta didik yang pertama sekali harus saya dan rekan guru lainnya lakukan adalah meningkatkan minat belajar peserta . Berikut ini tahapan BAGJA sebagai upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa di sekolah
|
PRAKARSA PERUBAHAN |
Strategi Pengenalan Kekuatan dan Potensi Peserta didik |
|
|
TAHAPAN |
Pertanyaan |
Daftar tindakan yang
perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan |
|
B-uat pertanyaan (Define) |
Bagaimana meningkatkan minat peserta
didik dalam belajar? |
Berdiskusi dengan
peserta didik tentang model pembelajaran yang mereka impikan. Merefleksi kembali
pembelajaran yang dilakukan sebelumnya dan memperbaiki rencana pembelajaran
ke depan yang lebih melibatkan peserta didik dalam pembelajaran Berdiskusi dengan
rekan sejawat mengenai model pembelajaran yang tepat dan bervariasi untuk
meningkatkan minat belajar peserta didik |
|
A-mbil pelajaran (Discover) |
Hal positif apa yang dimiliki oleh
peserta didik untuk meningkatkan minat belajar Peserta didik? |
Semangat peserta
didik dalam belajar Potensi yang
dimiliki peserta didik |
|
G-ali mimpi (Dream) |
Hal positif apa yang akan
terjadi ke depan dengan meningkatnya minat belajar Peserta didik? |
Mewujudkan
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik Tujuan Pembelajaran
tercapai Meningkatkan mutu
lulusan
|
|
J-abarkan rencana (Design) |
Langkah-langkah apa
yang dilakukan untuk meningkatkan minat belajar peserta
didik? |
Membuat model
pembelajaran yang berpusat pada murid dan menyenangkan Mengembangkan
pembelajaran yang bervariasi sesuai potensi yang dimiliki peserta didik |
|
A-tur eksekusi (Deliver) |
Siapa saja yang terlibat dalam upaya
meningkatkan minat belajar peserta didik? |
Kebijakan kepala
sekolah tentang pengembangan pembelajaran yang bisa meningkatkan minat
peserta didik Semua guru
berkolaborasi dalam upaya mengembangkan model pembelajaran yang bisa
meningkatkan minat belajar peserta didik. kondisi
sekolah yang nyaman dapat menjadi pendukung dalam meningkatkan minat belajar
siswa.
|
Kegiatan Lokakarya Orientasi Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 8 Kabupaten dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 13 Mei 2023 di ...










