a. Sintesis berbagai materi
Dalam menjalankan peran dan nilai
seorang guru sebagai Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya maka
guru harus memiliki kemampuan dalam memetakan segala aset yang ada pada
ekosistem sekolah dan memanfaatkannya
sebagai pendukung dalam pelaksanaan
pembelajaran untuk meningkatkan kualitas mutu lulusan.
Lingkungan kelas dan sekolah adalah
miniatur dari tatanan masyarakat oleh karena itu pendekatan berbasis aset
dalam rangka pengembangan komunitas bisa diterapkan di dalam kelas
dan lingkungan sekolah, tujuannya adalah untuk mengupayakan pelayanan terbaik
kepada peserta didik dengan pengembangan sekolah berpijak pada kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh
sekolah berfokus pada pembangunan sumber
daya yang tersedia
Guru sebagai pemimpin pembelajaran
harus menggunakan pendekatan berbasis aset untuk menggali potensi murid yang
berbeda-beda sesuai kodratnya. Guru tidak lagi berpikir tentang kekurangan yang
di miliki oleh siswa tapi lebih melihat potensi, bakat dan juga gaya belajar
siswa untuk selanjutnya merancang dan juga menghadirkan kelas impian peserta
didik sehingga mereka benar-benar merasakan apa makna kemerdekaan dalam
belajar. Selain itu dengan memamfaatkan lingkungan sekolah guru juga bisa
menghadirkan ruang kelas terbuka dan merancang pembelajaran yang lebih
mengedepankan kreativitas peserta didik. Pemamfaatan setiap aset fisik yang
dimiliki sekolah juga dapat menunjang pembelajaran peserta didik.
Pemimpin Pembelajaran dalam
Pengelolaan Sumber Daya adalah seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk
mengenali, menggali, menganalisis, dan memetakan dan memanfaatkan potensi sumber daya (modal manusia, modal
sosial, modal fisik, modal
lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan juga modal agama dan
budaya) sekolahnya dengan pendekatan
berbasis aset (Asset Based Thinking), selanjutnya memanfaatkan dan
memberdayakan aset-aset tersebut seoptimal mungkin untuk mewujudkan perubahan
dalam pembelajaran yang berpihak pada murid.
Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses
pembelajaran peserta menjadi lebih berkualitas karena di sini kita tidak hanya
terpaku dengan kemampuan guru dalam menguasai materi tapi kemampuan guru untuk
mendaya gunakan setiap sumber daya yang ada untuk mengembangkan kelas menjadi
lebih hidup dan bermakna bagi peserta didik.
Materi
pada modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan
modul-modul sebelumnya sangatlah berkaitan dan keterkaitan itu terangkum dalam makna
pendidikan menurut KHD, “ Pendidikan itu adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat”. Kata-kata
kunci dalam kalimat tersebut merupakan keterkaitan antara modul 3.2
dengan beberapa modul yang telah dipelajari sebelumnya.
Peserta
didik adalah aset yang kita optimalkan untuk didik sesuai kodrat alam dan
kodrat zamannya mereka mempunyai keunikannya tersendiri dengan menerapkan
proses pembelajaran yang tepat mereka mampu akan menjadi generasi emas yang
siap terjun kedalam masyarakat dan juga dunia usaha.
Selanjutnya
selaku guru penggerak dengan memahami dan menjalankan nilai dan peran guru
penggerak dan menyadari segala peran dan nilai yang melekat dalam dirinya yaitu
menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach
bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, mewujudkan kepemimpinan peserta
didik dan juga memiliki nilai mandiri,
reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid), yang merupakan aset
untuk menuntun tumbuh kembang peserta didik sesuai dengan potensi yang ada
dalam diri mereka. Dengan berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan untuk
mengembangkan potensi yang mereka miliki dalam bingkai kemerdekaan belajar maka
lahirlah visi guru penggerak yang juga merupakan visi sekolah. Untuk mencapai
cita-cita bersama harus ditentukan dulu tujuan yang jelas dan disepakati
bersama. Setelah cita-cita bersama disepakati dalam sebuah visi sekolah maka
langkah selanjutnya adalah menyusun langkah pencapaian visi dengan melakukan
pendekatan inquiry apresiatif (IA) BAGJA dengan memperhatikan 7 aset utama yang
ada dan berpedoman pada pendekatan berbasis aset.
Untuk
mewujudkan visi sekolah yaitu merdeka
belajar untuk mencapai peserta didik yang unggul dalam prestasi, berakhlak
mulia berdasarkan iman dan takwa maka sangat diperlukan menumbuhkan budaya
positif yang mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang nyaman dan
kondusif. Selain itu untuk makna merdeka itu bisa dirasakan oleh peserta didik
maka untuk memenuhi kebutuhan belajar
peserta didik dapat diterapkan
melalui Pembelajaran
Berdiferensiasi dengan muatan
ketrampilan sosial dan emosional akan
mampu mengakomodasi setiap kebutuhan belajar peserta didik karena kita
menyadari setiap anak dilahirkan dalam kodrat yang berbeda-beda, dan perbedaan
itu sendiri adalah aset yang memperkaya keragaman, maka pembelajaran
berdiferensiasi menjadi solusi terbaik untuk memfasilitasi dan menyatukan
keragaman dalam bingkai merdeka belajar.
Selain itu Pembelajaran sosial emosional sangat diperlukan agar semua
warga sekolah memiliki kemampuan untuk berempati, memiliki kesadaran diri, dan
pengelolaan diri yang baik. Dengan demikian upaya untuk mengantarkan murid,
guru, dan semua warga sekolah mencapai keselamatan dan kebahagiaan (wellbeing)
dapat tercapai.
Selain
mendidik tugas seorang guru juga adalah
menuntun. Menuntun kekuatan kodrat agar murid, guru, dan semua warga
sekolah dapat meningkatkan potensinya. Dengan menerapkan model Tirta dalam coaching
mereka akan mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi,
mereka juga akan dapat menentukan tujuan yang diharapkan.
Kemampuan
seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempengaruhi
pencapaian tujuan maksud pendidikan. Sebab dalam perjalanannya akan
berhadapan dengan situasi dilema etika maupun bujukan moral. Dengan pengetahuan
pengambilan keputusan yang baik, maka seorang pemimpin pembelajaran akan mampu
menyelesaikan masalah dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah-langkah
pengambilan keputusan. Dengan demikian pemimpin dapat melakukan pemetaan aset
dengan tepat dan dapat diberdayakan secara optimal untuk mencapai visi sekolah.
Koneksi
antar materi dalam program guru penggerak sangat sistematis dimulai dari modul
1.1 hingga modul 3.2 dimana saya pribadi sebagai CGP sangat terbantu untuk menggali,
mengenali dan mengembangkan kemampuan yang sudah seharusnya dimiliki oleh
seorang guru. Hubungan antara sebelum dan sesudah saya mengikuti pelatihan
terkait modul 3.2 adalah adanya perubahan paradigma baru dalam pemikiran
tentang bagaimana melihat setiap potensi yang dimiliki sekolah dengan berpikir
berbasis aset karena ini merupakan salah satu upaya untuk pengembangan sekolah
ke arah lebih baik.
b. Rancangan tindakan
|
PRAKARSA PERUBAHAN
|
|
|
TAHAPAN
|
Pertanyaan
|
Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan
untuk mendapatkan jawaban
|
|
B-uat pertanyaan (Define)
●
Membuat pertanyaan utama yang akan
menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;
●
Menggalang atau membangun koalisi
tim perubahan
|
1.
Apa
yang bisa kita lakukan untuk membuat kelas lebih menyenangkan?
2.
Bagaimana mewujudkan kelas yang nyaman dan
menyenangkan
|
menggali cita-cita
dan harapan tentang kelas impian peserta didik dengan menginventarisir
potensi dan kekuatan yang mereka miliki
|
|
A-mbil pelajaran (Discover)
●
Menyusun pertanyaan lanjutan untuk
menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;
●
Menentukan bagaimana cara kita
menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei
individu, multi unsure
|
apa pengalaman
menyenangkan yang pernah peserta didik alami
|
Mengidentifikasi hal-hal yang diinginkan dan pengalaman
pembelajaran yang pernah di alami peserta didik melalui survei individu
|
|
G-ali mimpi (Dream)
●
Menyusun deskripsi kolektif
bilamana inisiatif terwujud;
●
Mengalokasikan kesempatan untuk
berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).
|
Seperti apa kelas yang menyenangkan? bagaimana perasaan
kelas yang nyaman dan menyenangkan
|
menanyakan pendapat setiap
angota kelas dan perasaan mereka tentang impian kelas yang nyaman dan
menyenangkan,
|
|
J-abarkan rencana (Design)
●
Mengidentifikasi tindakan konkret
yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat
dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan
keseluruhan pencapaian;
●
Menyusun definisi kesuksesan
pencapaian
|
langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk
menyiapkan kelas yang nyaman dan menyenangkan? Bagaimana pengaturan kelas
agar tetap nyaman dan menyenangkan
|
membuat capaian yang realistis
|
|
A-tur eksekusi (Deliver)
●
Menentukan siapa yang berperan/
dilibatkan dalam pengambilan keputusan;
●
Mendesain jalur komunikasi dan
pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)
|
siapa saja yang terlibat dan apa saja peran masing-masing
murid ?
|
menyusun tim kerja
|