- Koneksi Antar Materi. Filosofi Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, Visi Guru Penggerak dan Budaya Positif
Refleksi
filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal dalam
memahami arti pendidikan sesungguhnya. Pendidikan anak sejatinya adalah melihat
kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Mendidik
dengan hati nurani menuntun anak dengan gaya belajarnya sendiri berdasarkan
kodrat dirinya membawa mereka mampu menguasai ketrampilan abad 21 sesuai
tuntutan kodrat zaman untuk bekal masa depan mereka. Menuntun dengan
mengedepankan Akhlakul karimah sebagai contoh nyata agar terbentuk perilaku
yang baik, mengajar dengan memberikan motivasi agar mereka tertarik dan
berpartipasi aktif sehingga tujuan pembelajaran tercapai tanpa mereka
merasa dipaksa. Agar menjadi sosok guru profesional yang ideal
ala Ki Hajar Dewantara, maka guru harus selalu melakukan perubahan diri menuju
ke arah lebih baik, guru harus menempatkan diri sebagai pendidik, pengajar,
pembimbing, penasehat, motivator, penuntun, tegas dan terhormat dan tentunya di
cintai oleh anak. Anak didik adalah ibarat benih padi dan guru adalah
petani sedangkan sekolah adalah ladang tempat benih disemai dan tumbuh.
Setiap benih punya keistimewannya masing-masing dan tugas petani untuk memberi
perlakuan menurut keistimewaannya. Agar benih itu bisa menghasilkan padi
yang berkualitas tinggi tentunya si petani harus memiliki ilmu bercocok tanam
yang memadai. Ladang yang subur ikut berperan juga dalam menentukan
kualitas padi. Begitu juga dengan anak, setiap mereka memiliki keistimewaan
tersendiri dan tugas guru untuk memberi perlakuan menurut keistimewaanya selain
itu sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan juga harus mampu
memberikan fasilitas terbaiknya untuk dapat melahirkan lulusan yang
berkualitas, berbudi pekerti luhur dan mampu bersaing sesuai tuntutan zaman.
Sebagai
seorang guru penggerak dituntut untuk memahami nilai dan perannya. peran
guru penggerak adalah mengembangkan diri sendiri dan orang lain, memimpin
pembelajaran, memimpin manajemen sekolah dan memimpin pengembangan sekolah.
Peran yang harus dimiliki adalah menjadi pemimpin pembelajaran,menggerakkan
komunitas praktisi, menjadi mentor/coach bagi guru lain, dan mendorong kolaborasi
antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sedangkan nilai guru penggerak
adalah mandiri, reflektif, kolaboratif,inovatif dan berpihak kepada murid.
Langkah selanjutnya adalah merumuskan visi yaitu mewujudkan
merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang Memiliki Karakter Pancasila.
Sehingga dengan adanya visi yang telah dibuat, dalam melaksanakannya akan lebih
terarah. Dalam mewujudkan merdeka belajar Untuk Mencapai Pelajar Yang
Memiliki Karakter Pancasila tentunya tidak akan terwujud oleh
satu pihak saja tapi dengan kolaborasi dari setiap pemangku kepentingan
dengan pendekatan Inkuiri Apresiasi (IA). Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai
pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan yang
disusun dalam Peta Kekuatan
Untuk mewujudkan merdeka belajar Untuk
Mencapai Pelajar yang Memiliki Karakter Pancasila sangat di perlukan
menumbuhkan budaya positif yang nantinya akan menjadi budaya sekolah. Jika
dikaitkan dengan budaya positif di sekolah, maka bisa di uraikan sebagai
nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang
berpihak pada murid yang dijalankan oleh semua warga sekolah. Untuk
dapat mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan penting, guru
perlu mencari strategi, cara yang efektif dan tepat untuk dapat mewujudkan
budaya positif baik lingkup kelas maupun sekolah.








0 Comments:
Posting Komentar