Selasa, 14 Desember 2021

2.3.a.9 Koneksi Antar Materi- Coaching

     Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia mengemukakan bahwa pendidikan itu adalah proses menuntun yang dilakukan oleh  guru untuk mengubah perilaku murid, sehingga dapat hidup sesuai kodratnya, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan banyak hal. Salah satu caranya adalah dengan melakukan proses coaching
    Guru sebagai coach merefleksikan kebebasan murid untuk menemukan berbagai kekuataan yang dimiliki mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan. Guru sebagai coach menghindari keinginan untuk memaksakan kehendak dan mengharapkan pamrih. Guru sebagai coach menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya sehingga murid bisa terbuka dalam mengemukakan segala kendala yang dihadapinya selain itu dengan  memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, murid selaku coachee mampu menggali potensi yang dimilikinya sebagai kekuatan mereka dalam mengatasi kendala yang mereka alami.
        Salah satu bentuk untuk melejitkan potensi murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang selalu memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan minat, profil, dan kesiapan belajar. Guru sebagai coach dibutuhkan untuk menggali kebutuhan murid sehingga guru dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid.


        Selain itu, secara sosial-emosional, segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri .Segala potensi akan tergali dengan proses coaching yang dilakukan guru. Murid akan menemukan kedewasaan dalam menghadapi setiap kemelut dalam hidupnya dan mereka akan menemukan jati diri dengan proses coaching yang dilakukan guru. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.sehingga proses menuntun di sini dapat berjalan dengan baik
    Refleksi  saya terhadap proses coaching di sekolah antara lain, pertama, proses coaching sebagai bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi, keunikan dan kekuatan murid untuk hidup sesuai kodratnya dan memperbaiki lakunnya. Kedua, proses coaching menjadikan murid untuk bisa hidup sebagai individu dan bagian msyarakat yang mampu mengenali, menggali, dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Ketiga, proses coaching menuntun murid untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar digali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk memaksimalkan segala potensinya. 
Dalam proses Coaching yang dilakukan coach kepada coachee sedikitnya membutuhkan empat keterampilan: keterampilan membangun dasar proses coaching; keterampilan membangun hubungan baik; keterampilan berkomunikasi; keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 

        Ketika melakukan kegiatan coaching seorang guru selaku coach tentunya mengharapkan ada hasil yang akan dicapai, namun adakalanya murid selaku coachee merasa ragu dan mungkin saja tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. karena itu yang sangat diperlukan adalah pemahaman komunikasi yang asertif agar timbul rasa nyaman, rasa percaya dari coachee sehingga coachee akan lebih terbuka dalam komunikasi dan tujuan yang diharapkan akan tercapai. Dalam usaha untuk membagun keselarasan dalam komunikasi, seorang coach perlu belajar menyamakan posisi dari saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang bisa dilakukan adalah:

1. Menyamakan kata kunci

Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan    coach dan coachee dan ini merupakan langkah awal keberhasilan coaching karena antara     coach dan coachee mampu membangun relasi

2. Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru. Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

3. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika Coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.

Salah satu model Dalam kegiatan Coaching  adalah model TIRTa dengan  menerapkan langkah-langkah sebagai berikut, (T) tujuan,  coach akan menyampaikan  kalimat pembukan dapat menyampaikan tujuan yang hendak dicapai dengan jelas., (I) identifikasi masalah,  coach akan menagajukan Pertanyaan bersifat terbuka dan mampu mengeksplorasi coachee memberikan respon dengan lancar. Potensi dan alternatif solusi tergali. Coach aktif memberikan tanggapan dan umpan balik.  (R) rencana Aksi, Coach memberikan pertanyaan terbuka dan reflektif yang mengarah pada pengambilan keputusan mandiri oleh coachee. Coach membuat coachee mengeksplorasi jawaban sehingga menjadi jawaban yang lebih spesifik.dan (Ta) Coach bertanya untuk mengarahkan coachee mengambil komitmen. Coachee secara mandiri mampu membuat komitmen Tanggung jawab.”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya. 

Dengan memahami teknik komunikasi yang asertif  memahami langkah-langkah dalam proses coaching dengan model TIRTa dan melaksanakan pendampingan dengan prinsip ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid.akan mampu dan sangat membantu saya dalam menjalankan pendidikan yang berpihak kepada murid. karena apa yang saya lakukan bukan karena paksaan tapi memberikan kebebasan dan kemerdekaan bagi si murid untuk menemukan kekuatannya dan tugas saya adalah menuntun mereka untuk bisa menggali setiap potensi yang dimilikinya sesuai dengan kekuatan kodratnya.


0 Comments:

Posting Komentar

Kegiatan  Lokakarya Orientasi  Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 8 Kabupaten   dilaksanakan pada hari   Sabtu, tanggal 13 Mei 2023   di   ...