Kimia Itu Asik

pembelajaran kimia adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan bahan ajar materi kimia dan dilaksanakan dengan menarik sehingga siswa memperoleh berbagai pengalaman di bidang kimia sesuai dengan standar isi sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan

Sumber Belajar ya Dirumah Belajar

.Berbagai macam Pembelajaran di rumah belajar yang bisa kamu temui.

Ayo Ikut PEMBATK

Sebagai upaya pembelajaran Berbasis TIK guru dituntun untuk mengenalkan dan mempelajari Pyang ada pada portal rumah belajar

Selasa, 14 Desember 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke- 16

Minggu ini adalah minggu terakhir pembelajaran Modul 2.3. Pada minggu ini kegiatan yang saya ikuti adalah dimulai dengan sesi demontrasi konstekstual dan pemahaman elaborasi bersama instruktur ibu Puti hamid pada tanggal 13 Desember 2021 pukul 15.30 di ruang virtual Gmeet. Saat mengikuti sesi Pemahaman Elaborasi dengan materi coahing banyak sekali pemahaman yang saya dapatkan  dan tentunya sangat membantu saya dalam mempraktekkan teknik coaching dengan model TIRTa di sekolah saya.

Pada Kegiatan Demontrasi Konstektual, Disini saya mempraktekkan proses coaching model TIRTa dengan rekan sejawat yang berperan sebagai coachee. 
        Pada saat proses coaching berlangsung tantangan tersendiri bagi saya pribadi dalam mengajukan pertanyaan-pertanyan yang mampu mengindentifikasi permasalahan sehingga coachee mampu menemukan kendala yang di hadapinya. selain itu juga butuh ketrampilan dalam mengarahkan coachee untuk bisa menemukan rencana yang akan dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan yang dimiliki namun demikian Alhamdulillah proses coaching berjalan lancar dan selesai.
        Selama proses belangsung saya merasa tertantang dalam melakukan komunikasi yang asertif saya juga berupaya mengikuti beberapa tips dalam menjalankan proses coahing yaitu menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi dan saya merasa senang telah berhasil menjalankan proses coahing ini.
        Dalam proses Coaching ini banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan terutama tentang makna menuntun yang sebenarnya. jika selama ini saya beranggapan ketika murid atau rekan saya mengalami masalah dan berdiskusi dengan saya untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya biasanya saya akan ikut memikirkan dan memberikan solusinya namun dengan memahami makna coaching saya jadi paham untuk menuntun seseorang atau coachee maka yang saya perlukan adalah mengarahkan coachee tersebut dengan kalimat-kalimat yang mampu membuat coachee menemukan potensi yang dimilikinya sebagai kekuatannya dalam mengatasi permasalahannya.
        Kedepan saya akan kembali berlatih untuk terus mengembangkan komunikasi yang memberdaya yang nantinya akan membantu saya dalam menerapkan coaching disekolah saya baik itu dengan rekan sejawat ataupun murid saya sehingga proses pendidikan yang berpihak pada murid dapat terwujud.

"Untuk mengukur seberapa kita memahami teori maka praktekkan dalam kehidupan nyata"





2.3.a.9 Koneksi Antar Materi- Coaching

     Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia mengemukakan bahwa pendidikan itu adalah proses menuntun yang dilakukan oleh  guru untuk mengubah perilaku murid, sehingga dapat hidup sesuai kodratnya, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan banyak hal. Salah satu caranya adalah dengan melakukan proses coaching
    Guru sebagai coach merefleksikan kebebasan murid untuk menemukan berbagai kekuataan yang dimiliki mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan. Guru sebagai coach menghindari keinginan untuk memaksakan kehendak dan mengharapkan pamrih. Guru sebagai coach menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya sehingga murid bisa terbuka dalam mengemukakan segala kendala yang dihadapinya selain itu dengan  memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, murid selaku coachee mampu menggali potensi yang dimilikinya sebagai kekuatan mereka dalam mengatasi kendala yang mereka alami.
        Salah satu bentuk untuk melejitkan potensi murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang selalu memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan minat, profil, dan kesiapan belajar. Guru sebagai coach dibutuhkan untuk menggali kebutuhan murid sehingga guru dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid.


        Selain itu, secara sosial-emosional, segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri .Segala potensi akan tergali dengan proses coaching yang dilakukan guru. Murid akan menemukan kedewasaan dalam menghadapi setiap kemelut dalam hidupnya dan mereka akan menemukan jati diri dengan proses coaching yang dilakukan guru. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.sehingga proses menuntun di sini dapat berjalan dengan baik
    Refleksi  saya terhadap proses coaching di sekolah antara lain, pertama, proses coaching sebagai bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi, keunikan dan kekuatan murid untuk hidup sesuai kodratnya dan memperbaiki lakunnya. Kedua, proses coaching menjadikan murid untuk bisa hidup sebagai individu dan bagian msyarakat yang mampu mengenali, menggali, dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Ketiga, proses coaching menuntun murid untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar digali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk memaksimalkan segala potensinya. 
Dalam proses Coaching yang dilakukan coach kepada coachee sedikitnya membutuhkan empat keterampilan: keterampilan membangun dasar proses coaching; keterampilan membangun hubungan baik; keterampilan berkomunikasi; keterampilan memfasilitasi pembelajaran. 

        Ketika melakukan kegiatan coaching seorang guru selaku coach tentunya mengharapkan ada hasil yang akan dicapai, namun adakalanya murid selaku coachee merasa ragu dan mungkin saja tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. karena itu yang sangat diperlukan adalah pemahaman komunikasi yang asertif agar timbul rasa nyaman, rasa percaya dari coachee sehingga coachee akan lebih terbuka dalam komunikasi dan tujuan yang diharapkan akan tercapai. Dalam usaha untuk membagun keselarasan dalam komunikasi, seorang coach perlu belajar menyamakan posisi dari saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang bisa dilakukan adalah:

1. Menyamakan kata kunci

Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan    coach dan coachee dan ini merupakan langkah awal keberhasilan coaching karena antara     coach dan coachee mampu membangun relasi

2. Menyamakan bahasa tubuh

Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru. Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.

3. Menyelaraskan emosi

Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika Coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.

Salah satu model Dalam kegiatan Coaching  adalah model TIRTa dengan  menerapkan langkah-langkah sebagai berikut, (T) tujuan,  coach akan menyampaikan  kalimat pembukan dapat menyampaikan tujuan yang hendak dicapai dengan jelas., (I) identifikasi masalah,  coach akan menagajukan Pertanyaan bersifat terbuka dan mampu mengeksplorasi coachee memberikan respon dengan lancar. Potensi dan alternatif solusi tergali. Coach aktif memberikan tanggapan dan umpan balik.  (R) rencana Aksi, Coach memberikan pertanyaan terbuka dan reflektif yang mengarah pada pengambilan keputusan mandiri oleh coachee. Coach membuat coachee mengeksplorasi jawaban sehingga menjadi jawaban yang lebih spesifik.dan (Ta) Coach bertanya untuk mengarahkan coachee mengambil komitmen. Coachee secara mandiri mampu membuat komitmen Tanggung jawab.”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya. 

Dengan memahami teknik komunikasi yang asertif  memahami langkah-langkah dalam proses coaching dengan model TIRTa dan melaksanakan pendampingan dengan prinsip ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid.akan mampu dan sangat membantu saya dalam menjalankan pendidikan yang berpihak kepada murid. karena apa yang saya lakukan bukan karena paksaan tapi memberikan kebebasan dan kemerdekaan bagi si murid untuk menemukan kekuatannya dan tugas saya adalah menuntun mereka untuk bisa menggali setiap potensi yang dimilikinya sesuai dengan kekuatan kodratnya.


Jumat, 10 Desember 2021

Jurnal Refleksi Minggu ke 15

Pada minggu ini tepatnya tanggal  07 desember 2021 melalui ruang virtual kami dibimbing oleh fasilitator melakukan sesi latihan praktek coaching yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Sebelum sesi latihan proses coaching di mulai pak Mukhlis selaku fasilitator  memberikan pemaparan tentang proses coaching dengan model TIRTA  setelah itu kami diberikan kesempatan untuk melakukan sesi latihan  coaching dari kasus yang ada di LMS.  setelah sesi latihan kami diarahkan untuk terus berlatih secara mandiri dengan kelompok yang sudah di bagi karena setelah sesi latihan kami akan melakukan sesi praktik coaching yang nantinya akan kami unggah ke LMS



Selama kegiatan sesi latihan ini berlangsung saya sangat tertantang dalam penerapan model TIRTA karena sebagai coach saya harus mampu menggali pertanyaan untuk dapat mengindetifikasi masalah dan mengarahkan potensi yang dimiliki oleh coachee untuk menemukan solusi terhadap permasalahannya. Kerja sama yang baik dengan anggota kelompok saya yaitu ibu Ainal Mardhiah dan Pak Ihsan Armia sangat membantu saya dalam melakukan praktek coaching.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dalam praktek coaching ini terutama dalam berkomunikasi. untuk melakukan proses coaching perlu membangun keselarasan berkomunikasi coach perlu belajar menyamakan posisi saat proses coaching berlangsung diantaranya adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi hal ini dilakukan agar coachee merasa nyaman dan bisa terbuka kepada coach terhadap permasalahan yang di alaminya.

Setelah melakukan beberapa kali sesi latihan akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan praktek coaching. Dari praktek coaching ini  banyak hal yang saya dapatkan dan bisa saya terapkan ke depan pada saat saya akan melakukan praktek coahing baik itu dengan peserta didik maupun dengan rekan sejawat.

Selasa, 07 Desember 2021

Jurnal Refleksi Minggu Ke 14

Kegiatan LMS Pendidikan Guru Penggerak Minggu ini memasuki modul  2.3 dengan materi Coaching. Selain itu minggu ini tepatnya tanggal 4 desember 2021 juga diadakan Lokakarya ke 4 pendidikan guru penggerak  yang dilaksanakan di Meuligo Hotel dengan tema "Guru yang Berpihak Pada Murid"


Perasaan saya sangat senang karena saya merasa lebih memahami mengenai teknik dalam melaksanakan coaching . Materi ini sangat penting karena dengan memahami lebih mendalam tentang coaching ini akan membantu saya nantinya ketika saya menerapkan di lingkungan sekolah saya.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan pada saat kegiatan ini  para pengajar praktik memberikan materi tentang praktek coaching yang benar. Kami juga di arahkan bagaimana cara berkomunikasi yang asertif juga menerapkan model TIRTA dalam proses coaching. Kami di bagi dalam beberapa kelompok dimana 1 kelompok terdiri dari 3 orang yang masing-masing dengan perannya tersendiri ada yang berperan sebagai coach, ada yang berperan sebagai coachee dan juga pengamat. kegiatan berlangsung sangat menarik dan tentunya menantang. apalagi saat saya bertindak sebagai coachee saya harus lebih jeli menggali pertanyaa-pertanyaan kepada coachee agar semua proses coahing dengan model Tirta dapat terlaksana.


Setelah mengikuti praktek coaching pada saat loka karya dan juga dengan menggali materi tentang coaching di LMS  saya jadi lebih memahami tentang proses coahing yang benar. dan harapan saya apa yang telah saya pahami ini bisa saya laksanakan pada saat proses coaching di sekolah saya, baik dengan rekan sejawat maupun dengan peserta didik saya.


" Memahami saja tidak cukup untuk mengukur seberapa paham kamu akan sesuatu, maka praktekkan apa yang kamu pahami sehingga kamu akan merasa yakin kamu telah benar-benar memahami sesuatu" "Irawati, S.Pd  - CGP Angkatan 3 Kabupaten Bireuen"




Kegiatan  Lokakarya Orientasi  Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 8 Kabupaten   dilaksanakan pada hari   Sabtu, tanggal 13 Mei 2023   di   ...