Minggu ini adalah minggu terakhir pembelajaran Modul 2.3. Pada minggu ini kegiatan yang saya ikuti adalah dimulai dengan sesi demontrasi konstekstual dan pemahaman elaborasi bersama instruktur ibu Puti hamid pada tanggal 13 Desember 2021 pukul 15.30 di ruang virtual Gmeet. Saat mengikuti sesi Pemahaman Elaborasi dengan materi coahing banyak sekali pemahaman yang saya dapatkan dan tentunya sangat membantu saya dalam mempraktekkan teknik coaching dengan model TIRTa di sekolah saya.
Kimia Itu Asik
pembelajaran kimia adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan bahan ajar materi kimia dan dilaksanakan dengan menarik sehingga siswa memperoleh berbagai pengalaman di bidang kimia sesuai dengan standar isi sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan
Sumber Belajar ya Dirumah Belajar
.Berbagai macam Pembelajaran di rumah belajar yang bisa kamu temui.
Ayo Ikut PEMBATK
Sebagai upaya pembelajaran Berbasis TIK guru dituntun untuk mengenalkan dan mempelajari Pyang ada pada portal rumah belajar
Selasa, 14 Desember 2021
Jurnal Refleksi Minggu Ke- 16
2.3.a.9 Koneksi Antar Materi- Coaching
Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia mengemukakan bahwa pendidikan itu adalah proses menuntun yang dilakukan oleh guru untuk mengubah perilaku murid, sehingga dapat hidup sesuai kodratnya, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan banyak hal. Salah satu caranya adalah dengan melakukan proses coaching. 
Guru sebagai coach merefleksikan kebebasan murid untuk menemukan berbagai kekuataan yang dimiliki mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan. Guru sebagai coach menghindari keinginan untuk memaksakan kehendak dan mengharapkan pamrih. Guru sebagai coach menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya sehingga murid bisa terbuka dalam mengemukakan segala kendala yang dihadapinya selain itu dengan memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati, murid selaku coachee mampu menggali potensi yang dimilikinya sebagai kekuatan mereka dalam mengatasi kendala yang mereka alami.
Salah satu bentuk untuk melejitkan potensi murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang selalu memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan minat, profil, dan kesiapan belajar. Guru sebagai coach dibutuhkan untuk menggali kebutuhan murid sehingga guru dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid.

Selain itu, secara sosial-emosional, segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. Proses coaching dapat berjalan degan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri .Segala potensi akan tergali dengan proses coaching yang dilakukan guru. Murid akan menemukan kedewasaan dalam menghadapi setiap kemelut dalam hidupnya dan mereka akan menemukan jati diri dengan proses coaching yang dilakukan guru. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.sehingga proses menuntun di sini dapat berjalan dengan baik
Refleksi saya terhadap proses coaching di sekolah antara lain, pertama, proses coaching sebagai bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi, keunikan dan kekuatan murid untuk hidup sesuai kodratnya dan memperbaiki lakunnya. Kedua, proses coaching menjadikan murid untuk bisa hidup sebagai individu dan bagian msyarakat yang mampu mengenali, menggali, dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan segala masalahnya sendiri. Ketiga, proses coaching menuntun murid untuk berkesadaran penuh mencapai kemerdekaan belajar digali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk memaksimalkan segala potensinya. Dalam proses Coaching yang dilakukan coach kepada coachee sedikitnya membutuhkan empat keterampilan: keterampilan membangun dasar proses coaching; keterampilan membangun hubungan baik; keterampilan berkomunikasi; keterampilan memfasilitasi pembelajaran.
Ketika melakukan kegiatan coaching seorang guru selaku coach tentunya mengharapkan ada hasil yang akan dicapai, namun adakalanya murid selaku coachee merasa ragu dan mungkin saja tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. karena itu yang sangat diperlukan adalah pemahaman komunikasi yang asertif agar timbul rasa nyaman, rasa percaya dari coachee sehingga coachee akan lebih terbuka dalam komunikasi dan tujuan yang diharapkan akan tercapai. Dalam usaha untuk membagun keselarasan dalam komunikasi, seorang coach perlu belajar menyamakan posisi dari saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang bisa dilakukan adalah:
1. Menyamakan kata kunci
Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee dan ini merupakan langkah awal keberhasilan coaching karena antara coach dan coachee mampu membangun relasi
2. Menyamakan bahasa tubuh
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita. Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh lainnya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru. Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.
3. Menyelaraskan emosi
Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk diselaraskan, terutama ketika Coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.
Salah satu model Dalam kegiatan Coaching adalah model TIRTa dengan menerapkan langkah-langkah sebagai berikut, (T) tujuan, coach akan menyampaikan kalimat pembukan dapat menyampaikan tujuan yang hendak dicapai dengan jelas., (I) identifikasi masalah, coach akan menagajukan Pertanyaan bersifat terbuka dan mampu mengeksplorasi coachee memberikan respon dengan lancar. Potensi dan alternatif solusi tergali. Coach aktif memberikan tanggapan dan umpan balik. (R) rencana Aksi, Coach memberikan pertanyaan terbuka dan reflektif yang mengarah pada pengambilan keputusan mandiri oleh coachee. Coach membuat coachee mengeksplorasi jawaban sehingga menjadi jawaban yang lebih spesifik.dan (Ta) Coach bertanya untuk mengarahkan coachee mengambil komitmen. Coachee secara mandiri mampu membuat komitmen Tanggung jawab.”. Proses coaching model TIRTa dilakukan mengalir seperti air sehingga coachee bisa mendapatkan penyelesaian masalahnya dari pemikirannya sendiri, tugas coach hanya menuntun sehingga coachee bisa menemukan potensi dari dalam dirinya. Seorang coach menuntun dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, yaitu pertanyaan yang sifatnya terbuka dan mampu memancing coachee untuk terbuka dan menyampaikan semua yang ada dalam pemikirannya.
Dengan memahami teknik komunikasi yang asertif memahami langkah-langkah dalam proses coaching dengan model TIRTa dan melaksanakan pendampingan dengan prinsip ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid.akan mampu dan sangat membantu saya dalam menjalankan pendidikan yang berpihak kepada murid. karena apa yang saya lakukan bukan karena paksaan tapi memberikan kebebasan dan kemerdekaan bagi si murid untuk menemukan kekuatannya dan tugas saya adalah menuntun mereka untuk bisa menggali setiap potensi yang dimilikinya sesuai dengan kekuatan kodratnya.
Jumat, 10 Desember 2021
Jurnal Refleksi Minggu ke 15
Pada minggu ini tepatnya tanggal 07 desember 2021 melalui ruang virtual kami dibimbing oleh fasilitator melakukan sesi latihan praktek coaching yang dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3 orang. Sebelum sesi latihan proses coaching di mulai pak Mukhlis selaku fasilitator memberikan pemaparan tentang proses coaching dengan model TIRTA setelah itu kami diberikan kesempatan untuk melakukan sesi latihan coaching dari kasus yang ada di LMS. setelah sesi latihan kami diarahkan untuk terus berlatih secara mandiri dengan kelompok yang sudah di bagi karena setelah sesi latihan kami akan melakukan sesi praktik coaching yang nantinya akan kami unggah ke LMS
Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dalam praktek coaching ini terutama dalam berkomunikasi. untuk melakukan proses coaching perlu membangun keselarasan berkomunikasi coach perlu belajar menyamakan posisi saat proses coaching berlangsung diantaranya adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi hal ini dilakukan agar coachee merasa nyaman dan bisa terbuka kepada coach terhadap permasalahan yang di alaminya.
Setelah melakukan beberapa kali sesi latihan akhirnya kelompok kami dapat menyelesaikan praktek coaching. Dari praktek coaching ini banyak hal yang saya dapatkan dan bisa saya terapkan ke depan pada saat saya akan melakukan praktek coahing baik itu dengan peserta didik maupun dengan rekan sejawat.
Selasa, 07 Desember 2021
Jurnal Refleksi Minggu Ke 14
Kegiatan LMS Pendidikan Guru Penggerak Minggu ini memasuki modul 2.3 dengan materi Coaching. Selain itu minggu ini tepatnya tanggal 4 desember 2021 juga diadakan Lokakarya ke 4 pendidikan guru penggerak yang dilaksanakan di Meuligo Hotel dengan tema "Guru yang Berpihak Pada Murid"
Perasaan saya sangat senang karena saya merasa lebih memahami mengenai teknik dalam melaksanakan coaching . Materi ini sangat penting karena dengan memahami lebih mendalam tentang coaching ini akan membantu saya nantinya ketika saya menerapkan di lingkungan sekolah saya.
Banyak pembelajaran yang saya dapatkan pada saat kegiatan ini para pengajar praktik memberikan materi tentang praktek coaching yang benar. Kami juga di arahkan bagaimana cara berkomunikasi yang asertif juga menerapkan model TIRTA dalam proses coaching. Kami di bagi dalam beberapa kelompok dimana 1 kelompok terdiri dari 3 orang yang masing-masing dengan perannya tersendiri ada yang berperan sebagai coach, ada yang berperan sebagai coachee dan juga pengamat. kegiatan berlangsung sangat menarik dan tentunya menantang. apalagi saat saya bertindak sebagai coachee saya harus lebih jeli menggali pertanyaa-pertanyaan kepada coachee agar semua proses coahing dengan model Tirta dapat terlaksana.
Setelah mengikuti praktek coaching pada saat loka karya dan juga dengan menggali materi tentang coaching di LMS saya jadi lebih memahami tentang proses coahing yang benar. dan harapan saya apa yang telah saya pahami ini bisa saya laksanakan pada saat proses coaching di sekolah saya, baik dengan rekan sejawat maupun dengan peserta didik saya.
" Memahami saja tidak cukup untuk mengukur seberapa paham kamu akan sesuatu, maka praktekkan apa yang kamu pahami sehingga kamu akan merasa yakin kamu telah benar-benar memahami sesuatu" "Irawati, S.Pd - CGP Angkatan 3 Kabupaten Bireuen"
Kegiatan Lokakarya Orientasi Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 8 Kabupaten dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 13 Mei 2023 di ...









