Rabu, 16 Maret 2022

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

 


a.  Sintesis berbagai materi

Dalam menjalankan peran dan nilai seorang guru sebagai Pemimpin Pembelajaran Dalam Pengelolaan Sumber Daya maka guru harus memiliki kemampuan dalam memetakan segala aset yang ada pada ekosistem sekolah  dan memanfaatkannya sebagai  pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas mutu lulusan.

Lingkungan kelas dan sekolah adalah miniatur  dari tatanan masyarakat oleh karena itu pendekatan berbasis aset  dalam rangka pengembangan komunitas  bisa diterapkan di dalam kelas dan lingkungan sekolah, tujuannya adalah untuk mengupayakan pelayanan terbaik kepada peserta didik dengan pengembangan sekolah berpijak   pada kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh sekolah  berfokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia

Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus menggunakan pendekatan berbasis aset untuk menggali potensi murid yang berbeda-beda sesuai kodratnya. Guru tidak lagi berpikir tentang kekurangan yang di miliki oleh siswa tapi lebih melihat potensi, bakat dan juga gaya belajar siswa untuk selanjutnya merancang dan juga menghadirkan kelas impian peserta didik sehingga mereka benar-benar merasakan apa makna kemerdekaan dalam belajar. Selain itu dengan memamfaatkan lingkungan sekolah guru juga bisa menghadirkan ruang kelas terbuka dan merancang pembelajaran yang lebih mengedepankan kreativitas peserta didik. Pemamfaatan setiap aset fisik yang dimiliki sekolah juga dapat menunjang pembelajaran peserta didik.

Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya adalah seorang pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengenali, menggali, menganalisis, dan memetakan dan memanfaatkan  potensi sumber daya (modal manusia, modal sosial, modal fisik,  modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan juga modal agama dan budaya)  sekolahnya dengan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking), selanjutnya memanfaatkan dan memberdayakan aset-aset tersebut seoptimal mungkin untuk mewujudkan perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid.

Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran peserta menjadi lebih berkualitas karena di sini kita tidak hanya terpaku dengan kemampuan guru dalam menguasai materi tapi kemampuan guru untuk mendaya gunakan setiap sumber daya yang ada untuk mengembangkan kelas menjadi lebih hidup dan bermakna bagi peserta didik.



Materi pada modul 3.2 Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan modul-modul sebelumnya sangatlah berkaitan  dan keterkaitan itu terangkum dalam makna pendidikan menurut KHD, “ Pendidikan itu adalah proses  menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat”. Kata-kata kunci dalam kalimat tersebut merupakan keterkaitan antara modul  3.2 dengan beberapa modul yang telah dipelajari sebelumnya.

Peserta didik adalah aset yang kita optimalkan untuk didik sesuai kodrat alam dan  kodrat zamannya mereka mempunyai keunikannya tersendiri dengan menerapkan proses pembelajaran yang tepat mereka mampu akan menjadi generasi emas yang siap terjun kedalam masyarakat dan juga dunia usaha.

Selanjutnya selaku guru penggerak dengan memahami dan menjalankan nilai dan peran guru penggerak dan menyadari segala peran dan nilai yang melekat dalam dirinya yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, mewujudkan kepemimpinan peserta didik dan juga  memiliki nilai mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid), yang merupakan aset untuk menuntun tumbuh kembang peserta didik sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka. Dengan berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki dalam bingkai kemerdekaan belajar maka lahirlah visi guru penggerak yang juga merupakan visi sekolah. Untuk mencapai cita-cita bersama harus ditentukan dulu tujuan yang jelas dan disepakati bersama. Setelah cita-cita bersama disepakati dalam sebuah visi sekolah maka langkah selanjutnya adalah menyusun langkah pencapaian visi dengan melakukan pendekatan inquiry apresiatif (IA) BAGJA dengan memperhatikan 7 aset utama yang ada dan berpedoman pada pendekatan berbasis aset.

Untuk mewujudkan visi  sekolah yaitu merdeka belajar untuk mencapai peserta didik yang unggul dalam prestasi, berakhlak mulia berdasarkan iman dan takwa maka sangat diperlukan menumbuhkan budaya positif yang mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif. Selain itu untuk makna merdeka itu bisa dirasakan oleh peserta didik maka untuk memenuhi  kebutuhan belajar peserta didik dapat  diterapkan melalui  Pembelajaran Berdiferensiasi  dengan muatan ketrampilan sosial dan emosional akan  mampu mengakomodasi setiap kebutuhan belajar peserta didik karena kita menyadari setiap anak dilahirkan dalam kodrat yang berbeda-beda, dan perbedaan itu sendiri adalah aset yang memperkaya keragaman, maka pembelajaran berdiferensiasi menjadi solusi terbaik untuk memfasilitasi dan menyatukan keragaman dalam bingkai merdeka belajar.  Selain itu Pembelajaran sosial emosional sangat diperlukan agar semua warga sekolah memiliki kemampuan untuk berempati, memiliki kesadaran diri, dan pengelolaan diri yang baik. Dengan demikian upaya untuk mengantarkan murid, guru, dan semua warga sekolah mencapai keselamatan dan kebahagiaan (wellbeing) dapat tercapai.

Selain mendidik tugas seorang guru juga adalah  menuntun. Menuntun kekuatan kodrat agar murid, guru, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensinya. Dengan menerapkan model Tirta dalam coaching mereka akan mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi, mereka juga akan dapat menentukan tujuan yang diharapkan.

Kemampuan seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan akan mempengaruhi pencapaian tujuan maksud pendidikan.  Sebab dalam perjalanannya akan berhadapan dengan situasi dilema etika maupun bujukan moral. Dengan pengetahuan pengambilan keputusan yang baik, maka seorang pemimpin pembelajaran akan mampu menyelesaikan masalah dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah-langkah pengambilan keputusan. Dengan demikian pemimpin dapat melakukan pemetaan aset dengan tepat dan dapat diberdayakan secara optimal untuk mencapai visi sekolah.

Koneksi antar materi dalam program guru penggerak sangat sistematis dimulai dari modul 1.1 hingga modul 3.2 dimana saya pribadi sebagai CGP sangat terbantu untuk menggali, mengenali dan mengembangkan kemampuan yang sudah seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Hubungan antara sebelum dan sesudah saya mengikuti pelatihan terkait modul 3.2 adalah adanya perubahan paradigma baru dalam pemikiran tentang bagaimana melihat setiap potensi yang dimiliki sekolah dengan berpikir berbasis aset karena ini merupakan salah satu upaya untuk pengembangan sekolah ke arah lebih baik.

 

b. Rancangan tindakan

PRAKARSA PERUBAHAN

 

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan/ riset/ penyelidikan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan jawaban

B-uat pertanyaan (Define)

                   Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah investigasi kekuatan/potensi/ peluang;

                   Menggalang atau membangun koalisi tim perubahan

1.      Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kelas lebih menyenangkan?

2.       Bagaimana mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan

 menggali cita-cita dan harapan tentang kelas impian peserta didik dengan menginventarisir potensi dan kekuatan yang mereka miliki

 

A-mbil pelajaran (Discover)

                   Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/ peluang lewat investigasi;

                   Menentukan bagaimana cara kita menggali fakta, memperoleh data, diskusi kelompok kecil/besar, survei individu, multi unsure

 apa pengalaman menyenangkan yang pernah peserta didik alami

Mengidentifikasi hal-hal yang diinginkan dan pengalaman pembelajaran yang pernah di alami peserta didik melalui survei individu

G-ali mimpi (Dream)

                   Menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud;

                   Mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multiunsur (kapan, di mana, siapa saja).

Seperti apa kelas yang menyenangkan? bagaimana perasaan kelas yang nyaman dan menyenangkan

menanyakan  pendapat setiap angota kelas dan perasaan mereka tentang impian kelas yang nyaman dan menyenangkan,

J-abarkan rencana (Design)

                   Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera,dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian;

                   Menyusun definisi kesuksesan pencapaian

langkah-langkah apa saja yang bisa dilakukan   untuk menyiapkan kelas yang nyaman dan menyenangkan? Bagaimana pengaturan kelas agar tetap nyaman dan menyenangkan

membuat capaian yang realistis

A-tur eksekusi (Deliver)

                   Menentukan siapa yang berperan/ dilibatkan dalam pengambilan keputusan;

                   Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: SOP, knowledge management, monev/refleksi)

siapa saja yang terlibat dan apa saja peran masing-masing murid ?

menyusun tim kerja

 

0 Comments:

Posting Komentar

Kegiatan  Lokakarya Orientasi  Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 8 Kabupaten   dilaksanakan pada hari   Sabtu, tanggal 13 Mei 2023   di   ...