Dalam pengambilan keputusan nilai-nilai kebajikan
yang ada pada diri kita juga mempengaruhi terhadap keputusan yang kita ambil.
untuk kasus bujukan moral disini dalam pengambilan keputusan nilai-nilai
kebajikan sangat mempengaruhi keputusan kita karena disini kita dituntut untuk
bisa melihat paradigma benar dan salah dalam sebuah kasus dan menentukan
keputusan yang tepat berlandaskan nilai kejujuran, tanggung jawab dan
integritas kita, sedangkan untuk kasus dilema etika terkadang kita juga melihat
aspek moral etika dibandingkan dengan berbasis peraturan.
Dalam kegiatan bimbingan dari pengajar praktik dan
juga fasilitator mengenai materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran, baik pengajar praktik maupun fasilitator menerapkan praktek
coaching model TIRTA sehingga saya sebagai CGP dapat mengindentifikasi kendala
yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan dan menentukan keputusan terbaik
dan efektif berdasarkan paradigma dan prinsip dan langkah-langkah pengujian dan
pengambilan keputusan.
Selain pemahaman tentang materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran aspek sosial emosional juga mempengaruhi keputusan yang
diambil. Kompetensi sosial dan
emosional sangat diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan
dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga keputusan yang
diambil berdampak pada peserta didik dan dapat mewujudkan merdeka belajar.
Sebagai pendidik ketika dihadapkan dengan
kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau
pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang kita anut. Nilai-nilai
yang kita anut akan mempengaruhi kita sebagai seorang pendidik dalam
mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianut adalah nilai-nilai
positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung
jawabkan. Kita tahu bahwa salah satu nilai-nilai dari Guru Penggerak
adalah berpihak pada peserta didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru
untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar
dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat
merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
Pengambilan keputusan yang tepat,
tentunya harus melewati langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan
yaitu sebagai pendidik ketika dihadapkan dengan
kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau
pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang kita anut. Nilai-nilai
yang kita anut akan mempengaruhi kita sebagai seorang pendidik dalam
mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianut adalah nilai-nilai
positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung-jawabkan. Kita tahu bahwa salah satu nilai-nilai dari Guru Penggerak
adalah berpihak pada peserta didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru
untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar
dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat
merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya harus
melewati langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan yaitu
- Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan hal ini sebagai upaya mengidentifikasi masalah yang sedang kita hadapi, apakah bujukan moral atau dilema etika
- Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi yang sedang kita hadapi, pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Bukan berarti kalau permasalahan tersebut bukan dilema kita, maka kita menjadi tidak peduli. Karena kalau permasalahan ini sudah menyangkut aspek moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. Proses pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail; apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting karena dilema etika tidak bersifat teoritis, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang mempengaruhi situasi tersebut, sehingga data yang detail akan menjelaskan alasan seseorang melakukan sesuatu dan bisa juga mencerminkan kepribadian seseorang dalam situasi tersebut. Kita juga harus bisa menganalisis hal-hal apa saja yang potensial yang bisa terjadi di waktu yang akan datang.
- Pengujian benar atau salah
- Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. Dari keempat paradigma berikut ini yaitu paradigma Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) . Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) ,Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang Anda hadapi betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.
- Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) atau Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
- Investigasi Opsi Trilema Dalam mengambil keputusan, seringkali ada 2 pilihan yang bisa kita pilih. Terkadang kita perlu mencari opsi di luar dari 2 pilihan yang sudah ada. Kita bisa bertanya pada diri kita, apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah. Itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.
- Buat Keputusan Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya (https://lms20-gp.simpkb.id/mod/questionnaire/view.php?id=190795)
Setelah melawati
langkah-langkah pengujian dan pengambilan keputusan diharapkan keputusan
yang diambil tepat dan tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan
yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Untuk menjalankan pengambilan
keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika di lingkungan sekolah tentunya
pemahaman tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran harus
saya imbaskan ke rekan sejawat dan juga warga sekolah lainnya sehingga
nantinya kami akan memiliki pemahaman yang sama dalam pengambilan keputusan
yang tepat. misalnya dalam menentukan metode pembelajaran yang digunakan oleh
guru apabila dalam menentukan keputusan
penggunaan metode tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang
metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang
sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid
dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi
dan kodratnya sehingga murid akan
belajar menjadi orang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil
keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka
akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat
dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah
melalui pertimbangan dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap
minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian
dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten,
diferensiasi proses dan diferensiasi produk dan memasukkan muatan KSE dalam
pembelajarannya.
Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul 3.1
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran jika dikaitkan dengan
modul-modul sebelumnya adalah Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi
atau kemampuan yang harus dimiiki oleh seorang guru dengan
berpedoman kepada filosofi Ki Hajar Dewantara dimana guru menjadi teladan bagi
peserta didik dan memberikan bimbingan serta memberi dorongan dan
semangat kepada mereka agar mereka mampu mengembangkan bakat yang
dimilikinya selain itu dengan memahami peran dan nilai-nilai guru
penggerak akan berdampak pada nilai-nilai kebajikan yang nantinya ikut
mempengaruhi keputusan yang diambil. Dalam pengambilan keputusan seorang guru juga harus memiliki
kesadaran penuh (mindfullness) sehingga keputusan yang diambil tepat dan
berdampak pada peserta didik .







0 Comments:
Posting Komentar